Home / Berita Daerah / Masalah Kespro Butuh Libatkan Berbagai Sektor

Masalah Kespro Butuh Libatkan Berbagai Sektor

“Masa remaja merupakan masa ketergantungan yang masih menggantungkan hidupnya pada orangtua, mereka berada pada masa peralihan, baik fisik maupun psikis. Hal yang harus kita sadari, remaja mudah terpengaruh dan sering berpikir pendek,” kata Ketua Program Remaja Dinas Kesehatan Kota Bandung Siti Aisyah dalam Seminar dan Diskusi Publik bertema “Berikan Hak Remaja untuk Mendapatkan Informasi dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi”, yang diselenggarakan oleh Women Research Institute (WRI) di Hotel Bumi Asih Jaya Bandung, Kamis (14/11).

Ia menjelaskan, dalam masa transisi tersebut, maka terjadilah perubahan-perubahan internal, baik perubahan fisik dam psikis maupun perubahan ekternal, yakni perubahan psikososial. “Namun perubahan fisik terkesan lebih cepat ketimbang perubahan psikososialnya,” ujarnya. Menurutnya, remaja dibagi dalam tiga siklus, yaitu remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. “Para remaja tersebut harus diberi pengetahuan dengan berbagai bentuk pelayanan dan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas,” tutur Siti Aisyah.

Pada kesempatan itu juga, Pengurus Harian Daerah Mitra Citra Remaja (MCR) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat, Novi Septiani menerangkan, bahwa persepsi remaja tentang kesehatan reproduksi lebih cenderung pada hubungan seksual semata. “Seks biasanya akan dihubungkan dengan berbagai hal yang negatif, ditambah lagi dengan asumsi masyarakat menyangkut seks, yaitu seks merupakan sesuatu yang kotor dan tidak pantas dibicarakan. Padahal tidak seperti itu,” kata Novi.

Novi mengatakan, bahwa masyarakat saat ini memandang seks sangat tabu untuk dibicarakan, sehingga konsep seksual yang benar tidak tersampaikan. Ia melanjutkan, bahwa seks terkesan sebagai konsumsi orang dewasa saja, sedangkan remaja atau siapapun yang belum menikah tidak boleh membicarakanya. “Inilah persoalan yang menjadi tantangan mengenai pemahaman kesehatan reproduksi remaja yang ada di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Novi, program pelayanan kesehatan reproduksi remaja mesti melibatkan berbagai sektor, diantaranya unsur pemerintahan baik itu BKKBN, Departemen Kesehatan, Dinas sosial, Departermen Agama, Depdiknas, Pemerintah daerah, LSM yang concern terhadap permasalahan kesehatan reproduksi remaja seperti PKBI, LSM yang menangani permasalahan AIDS, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

“Pemerintah sebagai penentu kebijakan sebaiknya dapat mendukung kegiatan-kegiatan yang telah ada dan diprakarsai oleh remaja, sehingga dengan keperdulian serta dukungan tersebut, apa yang diharapkan untuk mencapai remaja yang bertanggung jawab dapat terwujud,” papar Novi.

Adapun jenis-jenis pelayanan yang dibutuhkan remaja, papar Novi, meliputi pendidikan tentang kesehatan, konsultasi psikologis dan konsultasi medis, pelayanan medis seperti tes kehamilan, pemeriksaan pelvic dan payudara serta testis, tes HIV, penyembuhan PMS, pelayanan gizi dan nutrisi, konseling perkawinan dengan cara KB, pemberian, pelayanan ulang kontrasepsi, dan konseling kehamilan remaja dan pilihan solusinya.(RDN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: