Home / Berita Daerah / Linda Megawati Sarankan Hindari Asap Rokok untuk Cegah Stunting

Linda Megawati Sarankan Hindari Asap Rokok untuk Cegah Stunting

Anggota Komisi IX DPR RI Linda Megawati (berdiri) saat sosialisasi percepatan penurunan stunting di Panorama Lembah Gunung Kujang, Subang, pada Senin 11 November 2022.

TASIKMALAYA | WARTAKENCANA.COM

Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Linda Megawati mengajak masyarakat menghindari asap rokok untuk mencegah stunting. Linda mengungkapkan hal itu saat sosialisasi percepatan penurunan stunting di Panorama Lembah Gunung Kujang, Subang, pada Senin 11 November 2022. Turut mendampingi antara lain Koordinator Bidang Pelatihan dan Pengembangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Barat Angela Sri Melani Winyarti.

Mengutip hasil riset Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), Linda menunjukkan bahwa konsumsi rokok pada orang tua mengakibatkan anak stunting. Perilaku merokok pada orangtua diperkirakan berpengaruh pada anak stunting dengan dua cara. Pertama, melalui asap rokok orang tua perokok yang memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak. Kedua, dilihat dari sisi biaya belanja rokok, membuat orang tua mengurangi “jatah” biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan dan seterusnya.

“Keluarga hebat dimulai dari anak yang sehat. Sejalan dengan itu, nasib masa depan Kabupaten Subang sesunguhnya bergantung pada anak-anak dan remaja saat ini. Karena itu, kesehatan anak dan remaja merupakan hal paling utama. Salah satunya dengan cara menghindari asap rokok untuk mencegah stunting,” kata Linda.

Politikus Partai Demokrat ini mengajak warga Subang untuk berupaya keras mencegah munculnya stunting baru untuk menjamin masa depan lebih baik. “Untuk melihat bagaimana masa depan Subang, lihatlah anak-anaknya dan juga remajanya, karena di pundak merekalah nanti masa depan Subang ini. Apabila mereka sehat dan kuat, maka terjaminlah masa depan Subang. Apabila tidak, hancurlah masa depan Subang. Maka dari itu, untuk memastikan masa depan Subang maju, maka pastikan tidak ada lagi bayi stunting di Subang,” tandas Linda.

Di tempat yang sama, Angela Sri Melani Winyarti mengatakan, paparan asap rokok bisa meningkatkan risiko stunting pada anak usia 25-59 bulan. Konsumsi rokok, sambung Angela, menyebabkan stunting, baik secara langsung melalui paparan asap rokok pada anak sejak masa kandungan, maupun secara tidak langsung.

“Akibat terpapar asap rokok selama masa kehamilan, ibu menjadi perokok pasif yang berpotensi melahirkan bayi dalam kondisi prematur, keguguran, dan kematian. Biasanya orang tua perokok, menyebabkan second hand smoke yang memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak,” ungkapnya.

Merujuk hasil riset PKJS-UI, perilaku merokok telah berdampak pada kondisi stunting anak-anak mereka yang ditunjukkan pada tinggi dan berat badan. Dalam penelitian ini diperlihatkan, konsumsi rokok sekitar 3,6 persen pada 1997 telah melonjak 5,6 persen pada 2014, sedangkan konsumsi lainnya menurun secara signifikan selama 1997-2014.

Artinya, peningkatan konsumsi rokok sekitar 2 persen telah digantikan oleh penurunan pengeluaran beras, protein, dan sumber lemak, serta pendidikan. Pengeluaran rumah tangga untuk daging dan ikan menurun sekitar 2,3 persen selama 1997-2014.  Padahal, seperti yang ditunjukkan dalam banyak penelitian, jenis pengeluaran ini akan sangat mempengaruhi perkembangan masa depan anak-anak dalam hal berat badan, tinggi badan, dan kemampuan kognitif.

“Seperti ditunjukkan survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), sampai saat ini konsumsi rokok pada keluarga miskin masih sangat tinggi di Indonesia. Secara statistik, belanja makanan bergizi di bawah belanja rokok. Ini artinya, jika belanja rokok dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali, kesempatan keluarga miskin untuk belanja makanan bergizi akan jadi lebih besar. Inilah syarat utama menghindari stunting. Dari sini terlihat tarik menarik yang kuat antara konsumsi rokok, kejadian stunting, dan kemiskinan,” papar Angela.

Sementara itu, Kepala Departemen Ilmu Ekonomi UI Teguh Dartanto sekaligus penanggung jawab riset PKJS menjelaskan, anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak merokok akan tumbuh 1,5 kg lebih berat dan 0,34 cm lebih tinggi daripada mereka yang tinggal dengan orang tua perokok kronis. Ini menunjukkan bahwa perokok aktif cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil.

“Kami mengamati berat badan dan tinggi anak-anak (<= 5 tahun) pada 2007 dan kemudian melacak mereka pada 2014 secara berurutan untuk mengamati dampak perilaku merokok orang tua dan konsumsi rokok pada stunting. Secara mengejutkan, ditemukan anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan orang tua perokok kronis serta dengan perokok transien cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat dalam berat dan tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di rumah tangga tanpa orang tua perokok,” ungkap Teguh. (NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: