Home / Featured / Program KB: Kebutuhan Masyarakat, Tanggung Jawab Bersama

Program KB: Kebutuhan Masyarakat, Tanggung Jawab Bersama

Wawancara Khusus dengan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr.

 

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr.

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar program pengabdian kepada masyarakat di daerah Jawa Barat bagian selatan. Kegiatan ini diberi tajuk From Rancabadak to Rancabuaya: From West Java to the World for Global Health. Apa tujuannya dan bagaimana program tersebut bersinggungan dengan program kependudukan dan keluarga berencana (KKB)? Berikut wawancara Warta Kencana dengan Dekan Fakultas Kedokteran Unpad Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr. di Rancabuaya 29 Juni 2012 lalu.

 

Dok, bisa dijelaskan tentang program pengabdian masyarakat ini?

Tajuk awalnya ke sini itu pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, itu pasti fokus ke kesehatan. Kesehatan itu luas, multidisiplin, multisektor. Sasaran penting kami juga sebenarnya tidak sempit, karena saat kita berbicara tentang kesehatan ke depan itu aspek preventif. Sekarang  banyak pendidikan kedokteran itu kuatnya pada aspek pendidikan kuratif. Pelayanan kesehatan sendiri lebih banyak kuratif, lihat saja klinik-klinik, RS-RS, yang orang tahu pelayanan kesehatan itu kuratif. Kalau berbicara tentang wealthness, jarang yang berpikir tentang itu.

 

Seperti apa kesehatan preventif itu?

Kalau berbicara dokter layanan primer, berarti masih hospital based. Tindakan prevensinya berat. Kalau sudah berbicara preventif , berarti lebih ke arah masyarakat. Berarti kita berbicara masalah kualitas ibu, kualitas keluarga. Hal ini penting karena manajemen kesehatan ada di keluarga. Karena itu, kesehatan preventif itu menggunakan pendekatan dokter keluarga. Dengan semakin bertambahnya penduduk, berarti kebutuhan pelayanan kesehatan makin tinggi. Artinya perlu banyak lagi tenaga dan tempat pelayanan kesehatan. Di sinilah pentingnya kesehatan preventif tadi.

 

Menyangkut kependudukan, sejauhmana hubungannya dengan kesehatan?

Pentingnya kesehatan berkaitan erat dengan aspek kependudukan. Masalah berat kesehatan itu adalah populasi penduduk yang tinggi, apalagi Jawa Barat. Jawa Barat itu dengan provinsi dengan populasi tertinggi di Indonesia. Kita nggak mau excuse, Unpad ada di sini sudah seharusnya bisa bertanggung jawab untuk membantu memecahkan permasalahan Jawa Barat. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah dengan membangun simpul jaringan kesehatan di Jawa Barat bagian selatan ini. Upaya lainnya dengan mengembangkan konsep kesehatan preventif tadi. Di Rancabuaya misalnya, kami membangun rumah sehat yang dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam bentuk preventif.

 

Berarti peran keluarga sangat penting ya?

Begitu berbicara tentang keluarga, tentu menjadi topik yang sangat penting. Proses hidup berlangsung di situ, maka di situlah kesehatan berbicara lebih komprehensif. Kesehatan tidak hanya obat, tetapi lebih ke dasar-dasar kesehatan keluarga.

 

Bagaimana kesadaran masyarakat sendiri?

Sebenarnya kita juga sudah mendorong hospital basednya sudah lepas dari RS Hasan Sadikin (RSHS).  Itu yang saya katakan tadi terbukti itu. Sejak 2006 lalu sudah cukup bagus. Terbukti kunjungan ke RSHS, terutama di bagian gawat darurat, berkurang drastis. Penurunan signifikan terjadi pada 2010. Kita sudah mengurangi kesan RSHS sebagai puskesmas raksasa. Kalaupun dilempar ke RSHS, biasanya karena aspek pembiayaan dan bobot penyakit.

 

Artinya, masyarakat sudah sadar pentingnya kesehatan preventif?

Secara keseluruhan tentu belum. Terbukti dengan membaiknya tingkat kesehatan masyarakat yang ditandai menurunnya volume pasien di RSHS. Namun begitu, kesan di masyarakat masih melekat bahwa bicara kesehatan itu berarti berbicara rumah sakit, obat, dan lain-lain. Padahal, kita bisa melakukan manajemen kesehatan di keluarga masing-masing. Keluarga berperan besar dalam kesehatan preventif ini. Sehingga, kami mengembangkan konsep dokter keluarga yang menitikberatkan pada pendekatan manajemen kesehatan berupa pola hidup sehat di setiap keluarga.

 

Oh ya, Dok. Di manakah sebenarnya letak program KB dalam kesehatan dan kependudukan?

Bagi Unpad, kami di FK punya kepentingan tersendiri. Pola ilmiah Unpad diterjemahkan menjadi keunggulan keilmuan kesehatan reproduksi dan kesehatan lingkungan. Nah, kesehatan reproduksi itu pasti kuat kaitannya dengan keluarga berencana dan kependudukan, kan begitu. Jadi, sisi-sisi itu kembali ke kualitas kehidupan manusia itu dimulai dari aspek reproduksi.

Dalam lima tahun ini kami bekerjasama dengan tiga perguruan tinggi di Eropa, dapat grant untuk riset HIV (AIDS). Awalnya Jawa Barat itu AIDS cukup tinggi. Dulu dianggap banyak penularan dari jalur penggunaan suntik, tapi sekarang mulai bergeser. Produk dari riset kita itu kita kembangkan terhadap kurikulum namanya Hebat: hidup sehat dengan sahabat. Bagaimana kita hidup dengan ODHA, berikutnya mencegah AIDS.  Berikutnya kita buat lagi kurikulum kesehatan reproduksi remaja untuk SMP. Yang terakhir ini didukung juga oleh Dinas Pendidikan. Unpad yang membuat kurikulum, eksekusinya Dinas Pendidikan. Lima SMP di Kota Bandung menjadi pilot project program ini. Sekarangsudah 40 sekolah di Bandung, nanti akan kita perluas ke seluruh Jawa Barat.

 

Khusus program KB, ada impresi khusus?

Sebenarnya itu rutin. Pendidikan residen atau pendidikan bidan misalnya,  pasti ada pelatihan mengenai kontrasepsi. Bukan hanya di rumah sakit, di masyarakat juga kami sudah rutin melaksanakan. Sasaran pentingnya justru membangun kesadaran karena tingkat pemahanan masyarakat masih kurang. Program ini ke depannya diharapkan muncul dari kesadaran masyarakat, bukan karena pemerintah yang memprogramkan. Program KB merupakan kebutuhan masyarakat, mereka yang mebutuhkan.

 

Bagaimana program KB selama ini?

Saya kira upayanya sudah luar biasa. Tapi, kembali ke kompleksitas tantangannya. Untuk itu, semua orang harus bekerja sama, bukan BKKBN sendiri, bukan tanggung jawab sektor kesehatan sendiri. Kita harus berusaha bangun bersama. Alhamdulillah, ternyata banyak pihak yang sadar bersama. Aspek pentingnya itu harus dicontoh karena kalau banyak wacananya, nggak jadi-jadi. Masyarakat merupakan potensi besar. Mereka sangat partisipatif bila sudah memahami programnya.

 

Kembali ke kegiatan di Rancabuaya ini, feed back apa yang diharapkan?

Saya pikir feed back-nya nanti kita akan digunakan untuk memperbaiki kurikulum kita. Karena balik lagi, kalau bicara pendidikan dokter, ya itu tadi, kuatnya di kuratif. Kalaupun ada komunikasi, mata kuliah  manajemen kesehatan, tapi tidak  pernah berbicara lebih mendalam tentang konteks kesehatan keluarga. Dengan begini nanti kita bisa juga dapat feedback di mana kekurangan kurikulum kami. Kalau kami tidak pernah terjun langsung melihat seperti ini,  mungkin sok tahu saja dalam  menyusun kurikulum. Makanya ini dilakukan setiap tahun, dengan ini relevansinya akan makin kuat.

Bagu kami, yang penting bukan acara besarnya, tapi setelah ini yang penting adalah program pendidikan yang kita jalankan itu. Kami pun tidak mungkin menjalankan pendidikan yang baik kalau tidak ada pelayanan kesehatan yang baik. Karena pada karakteristik praktik kedokteran itu pendidikan, pelayanan, dan penelitian tidak pernah terpisahkan. Nanti dari data-data ini mucul lagi ke media, berinovasi pelayanan yang lebih baik lagi.

 

Terkait rumah sehat, bagaimana sebenarnya konsep rumah sehat itu dikembangkan?

Konsepnya sama seperti kesehatan preventif tadi, kesehatan dari rumah. Bumi Walagri ini tujuannya seperti itu. Kami menempatkan mahasiswa di sini.  Bukan rahasia lagi, tidak banyak dokter yang bersedia ditempatkan di sini. Paling satu atau dua bulan sudah pindah. Nah, melalui program ini kami akan mencoba membuat sebuah sistem terpadu manajemen pelayanan kesehatan. FK Unpad akan melaksanakan program berkelanjutan untuk menggarap Jabar bagian selatan yang selama ini belum banyak terjangkau pelayanan kesehatan.  Makanya kalau mengirimkan mahasiswa ke sini nggak akan khawatir.

Sisi penting memelihara kesehatan juga dari tenaganya ya harus update, kalau di sini kita mati-matian pasang satelit biar bisa connect ke dunia luar itu. Ini kan daerah terisolasi. Kalau ada koneksi dengan dunia luar kan ilmu ter-update, kita bisa berhubungan pusat pemeritahan, pusat layanan kesehatan lain itu bisa dilakukan.

 

Bagaimana siklusnya?

Rotasinya empat minggu sekali diganti. Itu berjalan bukan hanya di sini. Bakal ada di Pameungpeuk, di Garut juga ada, Hasan Sadikin pun ada. Dan kalau pola ini bagus, kita akan dorong klinik-klinik 24 jam atau puskesmas yang ada di jalur ini itu untuk menjalankan pola yang sama. Yang namanya Bumi Walagri itu bukan hanya Unpad, BKKBN (harusnya) punya, banyak yang menjalankan program yang sama.

 

Jadi connect-nya itu dibentuk network yang melingkar dari Jabar selatan ya?

Ya. Karena ujung sudah kita patok di Banjar dan Sukabumi. Di sini sumbu. Nanti mulai dari sumbu ini Kabupaten Bandung yang akan kita buat. Kita sudah berbicara dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, mereka sudah menyiapkan. Permasalah mereka adalah orang dan kontrak. Nanti kalau diintegrasikan dengan pendidikan, yakinlah terpelihara, kecuali kalau pendidikan kedokteran berhenti, berhenti juga mengirim orang.

 

Ini kaitannya dengan konsep From West Java to the World for Global Health itu?

Iya, benar. Karena begini, kalau berbicara sejarah pendidikan,  1999 kami  sudah mencanangkan untuk go global, lima tahun kemudian aspek itu tercapai terbukti penghargaan republik kita dari dunia internasional. Pada 2007, saat kami memperingati HUT Unpad ke-50 sudah merasa internasional, tapi mengingat permasalahan kesehatan di Jawa Barat. Padahal FK ini dulu dibangun untuk mendorong peningkatan pelayanan kesehatan di Jawa Barat. Apapun yang kita lakukan harus berdampak positif pada peningkatan kesehatan masyarakat di Jawa Barat. Akan tetapi, jangan meninggalkan branding internasional itu. Maka saya berpikiran untuk membawa ke tingkat internasional, harus mempunyai benchmark-nya internasional, membawa Jawa Barat ke kancah global, West Java to the world. Karena kita  di sektor kesehatan, makanya from health to the world. Itu perlu karena kesehatan sekarang sudah mengglobal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: