Home / Featured / Pekerja Migran Pulang, Bonus Demografi Melayang

Pekerja Migran Pulang, Bonus Demografi Melayang

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengikuti webinar ketenagakerjaan dari ruang kerjanya. (DOK. HUMAS BKKBN)

JAKARTA | WARTA KENCANA

Indonesia diramalkan bakal segera memasuki periode bonus demografi. Puncaknya terjadi ketika rasio ketergantungan (dependency ratio) mencapai angka 46 persen. Meski begitu, pencapaian dan pemanfaatan bonus demografi tersebut terbentur pada kenyataan meningkatnya jumlah pengangguran, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya akibat rendahnya kualifikasi pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Pulang kampungnya PMI berpotensi menggerus peluang bonus demografi.

“Kita tahu Indonesia sudah diprediksi bisa memasuki angka dependency ratio sampai 46 persen. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung 46 penduduk tidak produktif. Ini yang luar biasa. Dari segi kuantitas, tentu ini tidak akan mudah diganggu gugat karena syarat kuantitas ini ditempuh dengan sangat panjang. Pengaruh covid-19 ini tidak akan mengubah dengan serta-merta kuantitas penduduk,” jelas Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo pada acara webinar “Tantangan Kependudukan di Tengah Pandemi Covid-19: Pekerja Migran Indonesia Pulang Kampung”  melalui virtual meeting pada 28 Juni 2020 lalu.

Hasto mengungkapkan, bonus demografi membutuhkan dua syarat: kuantitas dan kualitas. Secara kuantitas tentu tidak perlu dikhawatirkan karena melalui proses yang sangat panjang dari hasil penurunan angka fertilitas dari tahun 1970 sebesar 5,6 menjadi 2,4 hingga kini. Yang perlu dikhawatirkan adalah segi kualitas penduduk Indonesia itu sendiri. Apalagi selama pandemi covid 19 disinyalir memicu peningkatan kehamilan tidak diinginkan (KTD). KTD tersebut bisa menimbulkan berbagai permasalahan, seperti stunting, angka kematian ibu dan bayi, serta permasalahan lainnya. Kondisi ini sudah barang tentu mengganggu kualitas SDM penduduk Indonesia untuk memetik bonus demografi tersebut.

Selain itu, isu pulangnya para PMI juga menambah kepanikan masyarakat di tengah pandemi. Konsep virus tidak bergerak tapi manusia yang memindahkan virus memperlihatkan mobilitas penduduk sebagai faktor kunci tersebarnya covid-19. Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat terdapat 100.094 PMI dari 83 negara pulang ke tanah air dalam tiga bulan terakhir. BP2MI juga memprediksi, 37.075 PMI akan kembali ke tanah air pada April-Mei 2020. Mreka berasal dari enam provinsi utama daerah asal PMI, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Lampung, dan Sumatera Utara.

“Ada 63,4 juta penduduk yang relatif muda. Tetapi ingat, syarat secara kualitatif mereka ini harus sehat secara reproduktif. Kemudian pendidikannya harus cukup. Juga punya ketrampilan yang baik. Kemudian, mereka juga harus mempunyai pekerjaan bagus. Bila itu terpenuhi, baru ada harapan untuk memetik bonus demografi. Adapun 260 ribu PMI mayoritas pendidikannya di bawah SMP dan mayoritas perempuan. Kalau kembali ke Indonesia, mereka bakal menjadi pemberat, bukan menjadi daya ungkit bonus demografi,” tambah Hasto.

Dalam paparannya, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aswatini menyebutkan bahwa PMI pada umumnya adalah perempuan. Jumlahnya mencapai dua kali lipat dari laki-laki. Pada umumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) dan caregivers. LIPI mencatat, sebanyak 66,7 persen PMI berpendidikan SD dan SLTP dan bekerja pada sektor informal.

Di dalam negeri, pandemi Covid-19 secara langsung telah berimbas pada aspek ketenagakerjaan Indonesia. Kementerian Tenaga Kerja dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat ada sekitar 2,8 juta pekerja di berbagai sektor yang terdampak langsung akibat covid- 19. Mereka terdiri dari 1,7 juta pekerja formal dirumahkan, 749,4 ribu di-PHK, dan 282 pekerja informal yang usahanya terganggu. Dilansir dari Katadata.co.id, CORE Indonesia memperkirakan tingkat pengangguran terbuka pada kuartal II-2020 mencapai 8,2 persen dengan skenario ringan, 9,79 persen pada skenario sedang, dan 11,49 persen skenario berat. Sementara, Dana Moneter Internasional (IMF) juga memproyeksi angka pengangguran Indonesia pada tahun 2020 sebesar 7,5 persen, naik dari 2019 yang hanya sebesar 5,3 persen.

Dalam rapat kabinet terbatas pada 11 Mei 2020, Presiden menyebutkan sekitar 34 ribu PMI akan habis masa kontraknya dan akan pulang ke Indonesia pada periode Mei-Juni 2020. Rinciannya, ekitar 8.900 orang berasal dari Jawa Timur, 7.400 orang dari Jawa Tengah, 5.800 dari Jawa Barat, 4.200 orang dari Nusa Tenggara Barat, 2.800 orang dari Sumatera Utara, 1.800 orang dari Lampung, dan 500 orang dari Bali. Kedatangan PMI ini akan terus berlanjut, bahkan diperkirakan Indonesia akan menyambut kepulangan PMI sebanyak 260 ribu orang sampai dengan akhir tahun ini. Kedatangan PMI yang dalam jumlah besar tersebut berpotensi besar menjadi sumber penyebaran covid-19 yang baru apabila tidak ditangani dengan baik dengan menerapkan protokol kesehatan penanganan covid-19 yang benar.

Pada kesempatan yang sama, dosen senior Macquarie University, Sydney, Australia, Salut Muhidin, mengungkapkan dampak besar akan terjadi kepada PMI dengan pendapatan kecil, pulang karena pemutusan hubungan tanpa pesangon, atau tidak ada kejelasan hubungan kerja pasca pandemi. Jika berhasil melalui masa sulit distress keuangan akan berkurang. Jika situasi terus terpuruk, akan berdampak besar pada keharmonisan dalam rumah tangga. Hubungan antar pasutri dan juga dengan anggota lainnya, termasuk gizi dan pendidikan anak.

Pandemi covid-19 menempatkan banyak negara ke dalam kondisi mengkhawatirkan. Selain karena jumlah korban yang masih terus bertambah dan ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Hal yang paling nyata dari imbas pandemi adalah ratusan juta orang di dunia berisiko jatuh ke garis kemiskinan seiring dengan anjloknya perekonomian.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: