Home / Featured / Kang Uung Pulang Kampung

Kang Uung Pulang Kampung

Wagub Uu Lantik Kusmana Jadi Kepala Perwakilan BKKBN Jabar

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Kusmana bersama Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Atalia Praratya Kamil di booth pameran 50 Tahun Program KB dalam rangka Rakerda Banggakencana Jawa Barat 2020 (NAJIP HENDRA SP/WARTA KENCANA)
Tepat seminggu setelah ditinggal pejabat sebelumnya, Perwakilan BKKBN Jawa Barat resmi kedatangan nakhoda baru. Adalah Kusmana yang didapuk Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menjadi nakhoda Banggakencana di provinsi dengan menduduk nyaris 50 juta jiwa tersebut. Kusmana sendiri bukan orang baru. Selain urang Jabar pituin, dia juga menghabiskan 15 tahun pertamanya sebagai abdi negara di Jawa Barat. Bertugas di Jawa Barat tak ubahnya pulang kampung.

Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKBN) resmi memiliki nakhoda baru. Jumat pagi, 14 Februari 2020, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum melantik secara resmi Kusmana sebagai Kepala BKKBN Jawa Barat di Aula Barat Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Sebelum bertugas di Jawa Barat, Kusmana merupakan Kepala Perwakilan BKKBN Kalimantan Barat. 

Pelantikan dilanjutkan dengan serah terima jabatan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat dari Sukaryo Teguh Santoso kepada Kusmana disaksikan Deputi Kepala BKKBN Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Dwi Listyawardani, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jawa Barat Atalia Praratya Kamil, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang membidangi keluarga berencana (KB), pimpinan mitra kerja BKKBN, dan pegawai Perwakilan BKKBN Jawa Barat. Sepekan sebelumnya, Teguh Santoso dilantik menjadi Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Wagub Uu bepesan agar Kepala Perwakilan BKKN Jabar menjaga dan melanjutkan kerjasama yang telah dilakukan pejabat sebelumnya. Uu secara khusus mengapresiasi program Santri Siaga Kependudukan yang diluncurkan di Kabupaten Cianjur belum lama ini. Langkah ini penting karena kalangan pesantren belum akrab dengan wacana kependudukan maupun keluarga berencana.

“Saya sekaligus mewakili komunitas pesantren meminta Kepala  BKKBN untuk melanjutkan kerjasama dengan pondok pesantren. Beberapa waktu lalu saya dan BKKBN Jawa Barat meluncurkan program Santri Siaga Kependudukan di salah pesantren di Kabupaten Cianjur. Saya juga bersama Kepala BKKBN melakukan roadshow ke pesantren di Kabupaten Cirebon dalam rangka optimalisasi pelaksanaan program KB di perbatasan,” kata Uu.

Di kalangan pesantren maupun masyarakat, sambung Uu,  masih berkembang pandangan bahwa setiap anak membawa rejeki masing-masing. Dengan demikian, banyak anak kerap diidentikkan dengan banyak rejeki. Dengan demikian, seolah-olah mengendalikan kelahiran sama dengan menolak rejeki. Padahal, dengan pemahaman yang baik, seorang kiai atau ajengan bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan atau mengedukasi perencanaan keluarga.

“Anak sedikit bukan berarti takut sama rezeki, tapi dengan kita ber-KB ada ayat lain (dalam Al Qur’an), yakni takut menurunkan keturunan yang lemah ekonomi, lemah akidah. Keluarga berencana untuk kebaikan dan keturunan yang hebat. Bukan menolak rezeki. Itu harus disampaikan sama ulama,” tutur Uu.

Di bagian lain, Uu meminta BKKBN bermitra dengan pemerintah daerah karena pada dasarnya tugas BKKBN sama dengan tugas pemerintah. Karena itu, harus bersatu dalam hal anggaran maupun program. Ini yang kelak akan menjadikan program menjadi lebih kuat. Uu meyakini kolaborasi pemerintah daerah dan BKKBN akan menjadi daya ungkit manfaat yang bisa dirasakan masyarakat.

Dengan besarnya manfaat yang dirasakan, maka dengan sendirinya akan memunculkan kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB yang kini berkembang menjadi pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Banggakencana). Untuk mewujudkan hal tersebut, BKKBN  harus menyentuh masyarakat bawah atau perkampungan. BKKBN tidak cukup menggelorakan program di level kabupaten dan kota atau kecamatan.

Ditemui usai pelantikan, Kusmana berjanji untuk melanjutkan kerjasama yang telah dilakukan pendahulunya. Urang Bandung yang akrab disapa Kang Uung ini mengaku memiliki penilaian yang sama dengan Wagub Uu tentang pentingnya keterlibatan para kiai, ajengan, dan ulama dalam menyukseskan program Banggakencana. Terlebih Jabar merupakan provinsi dengan jumlah penduduk paling banyak di Indonesia. Sehingga, kolaborasi dengan pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya menjadi sebuah keniscayaan.

“Jabar adalah provinsi yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap keberhasilan nasional. Itu amanat Pak Wagub menekankan bahwa hal yang sudah ditata oleh pendahulu saya, Pak Teguh, akan dikembangkan dan dilanjutkan. Jabar menjadi salah satu penentu keberhasilan program Banggakencana di tingkat nasional. Keberhasilan dalam membangun Jawa Barat akan kontribusi positif terhadap keberhasilan pembangunan nasional,” ungkap Uung.

Untuk mewujudkan keberhasilan tersebut, Uung menegaskan pentingnya penataan secara menyeluruh. Dan, pembangunan keluarga atau Banggakencana pada umumnya beperan sebagai hulu. Keberhasilan sebuah pembangunan sanat ditentukan oleh hulu, bukan tengah atau hilir.

Praktisi Andal Advokasi dan Kehumasan

Ditemui dalam kesempatan terpisah, Uung mengaku sangat bersyukur bisa kembali bertugas di Jawa Barat. Sebelum benar-benar pindah ke Jawa Barat, Uung sempat beberapa kali mendapat sinyalemen bakal ditugaskan di Jawa Barat. Sayangnya, tugas itu baru benar-benar tiba setahun menjelang berakhirnya pengabdian sebagai aparatur sipil negara (ASN).

“Mungkin sekitar tiga kali (akan ditugaskan di Jawa Barat). Belum rejekinya saja. Ya sudah, tugas di mana saja sama. Sama-sama melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya,” ujar Uung santai.  

Yang kemudian membuatnya bungah saat kembali ke Jawa Barat adalah hadirnya kesempatan untuk mengabdi kepada tanah kelahirannya. Setelah nyaris dua dasawarsa meninggalkan Jawa Barat, Uung merasa terpanggil untuk turut mengerahkan segenap potensinya untuk melayani masyarakat Jawa Barat.

“Terus terang ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menyempurnakan pengabdian saya sebagai ASN. Saya niatkan seja babakti ka lemah cai,” tambah Uung.

Terakhir kali bertugas di Jawa Barat adalah saat Uung mengemban tugas Kepala Seksi Penerangan dan Motivasi (Penmot) Kantor Wilayah BKKBN Jawa Barat pada 2001. Jabatan yang diembannya selama empat tahun sejak 1997. Setelah itu, Uung lebih banyak menghabiskan karirnya di BKKBN Pusat.

Pada tahun yang sama, “ditarik” ke Jakarta sebagai Kepala Seksi Penyusunan Komunikasi, Direktorat Advokasi dan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) BKKBN Pusat. Penmot dan Advokasi-KIE sejatinya memiliki tupoksi yang sama. Tampaknya Uung memang ditakdirkan banyak bergelut dengan pekerjaan advokasi dan KIE serta kehumasan yang berarti berperan sebagai penyambung lidah BKKBN kepada masyarakat.

Setahun kemudian, 2002, Uung dimutasi menjadi Kepala Seksi Hubungan Media Massa pada Direktorat Advokasi dan KIE BKKBN Pusat. Tugas ini diembannya selama lebih kurang enam tahun sebelum kemudian promosi menjadi Kepala Sub Direktorat Hubungan Antar Lembaga pada Direktorat Peningkatan Peranserta BKKBN Pusat pada 2008.

Tiga tahun kemudian, Uung mendapat tugas baru sebagai Kepala Bagian Hubungan Masyarakat pada Biro Hukum, Organisasi, dan Humas BKKBN. Lagi-lagi mengurus pekerjaan penyebarluasan informasi kepada khalayak. Pun dengan tugas anyarnya sebagai Kepala  Sub Direktorat Advokasi dan Pencitraan pada Direktorat Advokasi dan KIE setahun kemudian.

Pun dengan tugas barunya sebelum terbang ke Kalimantan Barat. Dua jabatan terakhirnya adalah Kepala Bidang Pengembangan Advokasi dan KIE dan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat pada Biro Hukum, Organisasi, dan Humas.

Sederet karir kepegawaian inilah yang kemudian menjadikan lulusan Teknik Bangunan SMK Muhammadiyah Cirebon ini andal dalam bidang advokasi dan kehumasan. Uung juga sangat dekat dengan kalangan media massa di mana dia bertugas. Bahkan, BKKBN mengenalnya sebagai Humas dengan output pemberitaan paling banyak dibanding pejabat lainnya. 

Hari Pertama Langsung Sarling

Tak butuh ancang-ancang lama bagi Uung untuk ngabret menuju Jabar Juara. Begitu mendarat usai menjalankan tugas terakhirnya di Kalimantan Barat pada Rabu, 19 Februari 2020, Uung langsung gaspol mengikuti Siaran Keliling (Sarling) ke Kabupaten Indramayu.

Uungsecara khusus mendampingi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Barat Atalia Praratya Kamil saat menyambangi stand Generasi Berencana dan pelayanan keluarga berencana di Indramayu. Kang Uung mengaku sangat antusias terlibat langsung dalam kegiatan Sarling yang diakuinya sangat inovatif dan menyentuh langsung masyarakat. Menurutnya, Sarling yang di dalamnya turut melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan lembaga masyarakat ini merupakan contoh nyata sinergi lintas sektor dalam kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat.

“Sungguh ini adalah kegiatan sangat kreatif dan inovatif. Sebuah terobosan di Jawa Barat yang perlu dicontoh. Bu Cinta adalah tokoh panutan Jawa Barat yang kehadirannya sangat dirindukan masyarakat. Kita bisa melihat antusiasme masyarakat saat dapat bersalaman dan berdialog langsung,” ungkap Uung.

Uung mengaku sangat bangga dengan kiprah Atalia Kamil yang menginisiasi kegiatan Sarling tersebut. Apalagi, Atalia tidak pernah membedakan pelayanan kepada masyarakat, baik yang dilakukan OPD Provinsi Jawa Barat maupun BKKBN yang nota bene merupakan lembaga vertikal. Ini tampak jelas saat Bu Cinta, sapaan akrab Atalia, menyambangi tempat pelayanan kontrasepsi di Puskesmas Babadan. Atalia tak sungkan berbaur dan berpoto bersama calon peserta KB metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) maupun petugas kesehatan dan masyarakat setempat.

Suasana serupa juga saat Atalia mampir ke stand Genre di SMA Negeri 1 Sindang, Indramayu. Bahkan, Bunda Genre Jabar ini menyempatkan diri bermain ular tangga Genre. Sontak kehadirannya menjadi ajang berebut selfie ratusan siswa yang menyemut di arena permainan khas remaja tersebut. Atalia pun melayani permintaan selfie dengan santuy dan senyuman hangat.

Seorang siswa yang kebetulan hadir di stand Genre mengaku surprise mendapat kunjungan Bu Cinta. Terlebih saat Bunda Genre Jabar ini ikut bermain ular tangga dan berfoto ria maupun selfie.

“Sekali lagi saya katakan kegiatan Sarling ini sangat kreatif dan inovatif. Saya sangat kagum dengan kiprah Bunda Genre Jawa Barat yang konsisten menjalankan misinya menjadikan generasi muda Jawa Barat sebagai generasi berencana. Semua ini untuk Jabar Juara,” tegas Kusmana.(WARTA KENCANA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: