Home / Berita Daerah / Di Jabar, Baru 65 Persen Keluarga Ikut BKB

Di Jabar, Baru 65 Persen Keluarga Ikut BKB

Sejumlah balita menikmati permainan dalam kegiatan BKB. (DOK. BKKBN JABAR)

Sejumlah balita menikmati permainan dalam kegiatan BKB. (DOK. BKKBN JABAR)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Besarnya jumlah remaja dan anak di Jawa Barat menjadi perhatian serius Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat. Sejumlah agenda besar telah disiapkan guna mempersiapkan generasi emas tersebut. Salah satunya dengan mengembangkan inisiatif baru (new initiative) Bina Ketahanan Balita (BKB) dan Bina Ketahanan Remaja (BKR). Inisiatif anyar ini mengemas program pembinaan anak dan remaja secara holistik dan terintegrasi dengan pembinaan keluarga.

 

Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) BKKBN Jabar Teti Sabarniati menjelaskan, integrasi didasari atas temuan adanya sumbatan informasi antara orang tua dan remaja. Pemicunya, remaja dan orang tua mendapatkan informasi secara terpisah. Meski remaja mulai mengakses informasi secara terbuka, sebagian orang tua terjebak dalam pola pikir lama yang menabukan informasi kesehatan reproduksi kepada anaknya.

 

“Ke depan, remaja diarahkan untuk mendapat inormasi melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR), sementara orang tua melalui BKR. Dengan demikian, informasi yang diterima selaras dan berkesinambungan,” kata Teti saat ditemui di sela Orientasi BKR bagi Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) kabupaten dan kota yang membidangi ketahanan remaja, Kamis 6 Maret 2014.

 

Khusus mengenai BKB, ungkap Teti, BKKBN kini tengah mengembangkan pilot project BKB Holistik-Integratif (HI) di lima kabupaten dan kota. Kelima daerah itu terdiri atas Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Kota Tasikmalaya. Adapun pengembangan BKB non-HI atau BKB dasar dilakukan di 10 kabupaten dan kota.

 

Dalam kerangka pengembangan BKB itu, BKKBN mengagendakan pelatihan kepada sedikitnya 5.000 kader BKB. Teti merinci: 4.240 kader dari 848 kelompok BKB dasar dan 1.090 kader dari 218 kelompok BKB HI dengan masing-masing kelompok diwakili lima orang kader.

 

“Terus terang kita di Jawa Barat masih kekurangan kader (BKB). Idealnya setiap kelompok umur memiliki atau dikelola tiga kader. Usia 0-1 tahun oleh tiga kader, 1-2 tahun oleh tiga kader, dan seterusnya. Dengan demikian, idealnya setiap BKB memiliki 15 kader. Faktanya, di lapangan masih ada satu BKB yang hanya dikelola 3-5 orang,” papar Teti.

 

Lebih jauh Teti menjelaskan, berdasarkan laporan yang masuk ke kantornya, saat ini di Jawa barat terdapat sekitar 1.800 BKB. Setelah dilakukan validasi data, ternyata hanya sekitar 1.200 yang berkegiatan secara aktif. Dan, hanya sekitar 65 persen keluarga yang aktif dalam kelompok BKB.

 

“Sisanya kita agendakan bisa dipenuhi selama 2014 ini. Secara keseluruhan, sampai Desember 2013 lalu terdapat 742.411 keluarga atau 65,53 persen yang aktif di BKB. Serarti kita masih harus mengaktifkan sekitar 600 ribuan lagi. Mudah-mudahan dengan pelatihan kader ini mampu mendongkrak angka partisipasi keluarga dalam kegiatan BKB,” urai Teti.

 

Bagi BKKBN Jabar, pengembangan BKB sangat penting karena jumlahnya yang signifikan. Berdasarkan hasil pendataan keluarga 2013, jumlah balita Jabar mencapai 2,622 juta atau 6.10 persen dari total jumlah penduduk. Yang menyedihkan, berbagai penelitian menunjukan masalah  yang menjangkit balita, seperti gizi buruk, perkembangan terlambat, kurangnya kecerdasan. Nah, BKB HI ini mencoba memadukan program BKB dengan program pengembangan anak usia dini lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar anak secara menyeluruh.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top