Home / Berita Daerah / Pemerintah Setengah Hati Urus Program KKB

Pemerintah Setengah Hati Urus Program KKB

CIAMIS – DUAANAK.COM

Ketua IPKB Jabar Soeroso Dasar (DOK. BKKBN JABAR)

Ketua IPKB Jabar Soeroso Dasar (DOK. BKKBN JABAR)

Pemerintah dinilai setengah hati untuk persoalan kependudukan dan keluarga berencana (KKB). Penilaian ini datang dari Soeroso Dasar, pengamat kependudukan yang juga ketua Ikatan Penulis KB (IPKB) Jawa Barat. Menurutnya, bila jumlah penduduk tidak dikendalikan, dalam beberapa dekade ke depan Pulau Jawa diperkirakan akan tenggelam. Ketidakseriusan pemerintah itu jelas terlihat dari anggaran yang disisihkan untuk pengendalian penduduk.

 

“Yang pasti anggaran untuk KB pada waktu reformasi jumlah dipangkas hingga setengah dari tahun sebelumnya. Ketika rezim berubah, program KB mulai terlupakan. Pemerintah sibuk mengurusi persoalan politik, demokrasi dan HAM,” kata Soeroso saat disambangi Media Bangsa di Hotel Mangkubumi Tasikmalaya beberapa waktu lalu.

 

Dosen dan peneliti senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran (Unpad) ini menyebutkan, program KB yang pernah “didewakan” pada Orde Baru itu langsung termajinalkan. Puncaknya, Menteri Kependudukan digusur dalam deretan kabinet. Soeroso menuturkan, KB atau family planning merupakan sebuah mahakarya temuan manusia untuk menjadikan dunia seimbang dan lebih beradab.

 

“Keseimbangan penduduk dunia merupakan harga mati agar bumi dapat dipertahankan. Siapapun pemerintahnya di suatu negara yang menganggap enteng program KB, itu sama saja dengan upaya menggali kuburannya sendiri,” ucap anggota Majelis Kependudukan pada Koalisi Daerah untuk Kependudukan dan Kependudukan Jawa Barat ini.

 

Bagi Soeroso, pembangunan infrastruktur tidak lagi memiliki signifikansi terhadap kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, pembangunan KB diakuinya sudah pasti signifikan. “Intinya, kita harus mempertimbangkan masalah dihulu, yakni pengendalian penduduk. Saya nggak bisa membayangkan jika ledakan penduduk terjadi lagi di Indonesia,” tegas juara I tingkat nasional sayembara Penulisan Masalah Kependudukan dan KB 1982-1983 ini.

 

Contoh lain, Soeroso mengaku tidak sepakat dengan penyebab banjir yang akhir-akhir ini melanda di berbagai daerah di Indonesia itu diakibatkan sampah. Ada juga yang menyebutkan itu dapat diatasi dengan membuat sodetan.

 

“Banjir di berbagai daerah itu bukan karena sampah. Atau, macet itu karena banyak mobil. Banjir di Bandung Selatan itu juga bukan gara-gara banyak penduduk yang berladang di gunung, itu nggak betul. Yang benar, banjir itu gara-gara jumlah penduduk. Itu masalah intinya,” tegas Seoroso.(mamay)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: