Home / Berita Daerah / Kenakalan Anak dan Remaja Mengganggu Ketahanan Keluarga

Kenakalan Anak dan Remaja Mengganggu Ketahanan Keluarga

Keluarga memiliki peran yang teramat penting dalam pembangunan karakter anak. Dengan adanya program Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (PK3), peran keluarga dalam pembentukan karakter anak dapat diperkuat. Melalui sebuah keluargalah dasar pembentukan karakter seorang anak dapat dibentuk, apakah arahnya pada etika dan moral yang baik atau buruk.

“Keluarga merupakan sel suatu bangsa, jika sel-sel tersebut tidak kokoh maka kehidupan suatu bangsa menjadi rapuh,” papar Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Soedibyo Alimoeso dalam seminar Membangun Keluarga Indonesia, di Hotel Karang Setra Bandung, Rabu (18/12).

Seminar yang diselenggarakan BKKBN Jabar dan Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) Kencana Pasundan itu menghadirkan pembicara Sudibyo Alimoeso dan Ketua PPKS Kencana Pasundan Dwiwahju Dian Indahwati. Seminar dibuka oleh Kepala BKKBN Jabar Siti Fathonah. “BKKBN memiliki program Tribina, yaitu membina ketahanan balita, remaja dan Lansia. Disamping itu juga ada program Genre, yang tentu semuanya melibatkan keluarga sebagai titik awal dan dasar dalam pengembangan karakter anak,” kata Siti Fathonah.

Dalam paparan Soedibyo, keluarga merupakan wahana utama dan pertama untuk mengembangkan potensi keluarga, mengembangkan sosial dan ekonomi keluarga, dan school of love atau penyemaian 8 fungsi keluarga. “Harus kita akui, bahwa kenakalan remaja saat ini cukup tinggi. Keluarga berperan dalam membimbing dan mendidik anak remajanya dengan membangun ketahanan keluarga. Jika itu dibiarkan, akan mengganggu ketahanan keluarga itu sendiri,” terang Soedibyo.

Melalui program PK3, papar Soedibyo, dapat membangun ketahanan dan kesejahteraan keluarga sebagai landasan untuk mewujudkan kualitas keluarga menjadi SDM yang mengarah pada pembangunan. Ia menjelaskan, terdapat empat tujuan dari program PK3 tersebut.

Pertama, terbangunnya ketahanan keluarga balita dan anak  serta  kualitas anak dalam memenuhi hak tumbuh kembang anak. Kedua, terbangunnya ketahanan keluarga remaja dan kualitas remaja  dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga. Ketiga, meningkatnya kualitas lansia dan pemberdayaan  keluarga rentan sehingga mampu berperan dalam kehidupan keluarga. Keempat, terwujudnya pemberdayaan ekonomi keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Menurut Soedibyo, peran pemerintah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut dengan mengeluarkan kebijakan demi pembangunan keluarga Indonesia. “Kebijakannya itu meliputi penguatan komitmen para pengelola dan pelaksana, peningkatan akses pelayanan, peningkatan kualitas pelayanan, dan memperkuat kemitraan,” jelasnya.

Hal yang sama disampaikan oleh Dian Indahwati, bahwa anak dan remaja dibentuk harus dimulai dari sebuah keluarga. Ia mengatakan, bahwa pembinaan anak, remaja dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa diarahkan untuk mengembangkan sikap, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa. “Sikap keteladanan disiplin dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus dilaksanakan sedini mungkin di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat,” tuturnya.

Menurut Dian, keluarga mesti bisa membangun anak dan remajanya agar mereka dapat berperilaku baik dan jujur. “Anak tidak boleh hanya diberikan pendidikan keahlian saja, tapi pendidikan etika dan hati nurani juga harus diprioritaskan, sehingga seorang anak bisa memberikan rasa hormat kepada orangtua, guru, dan orang yang lebih tua darinya,” ujarnya. (RDN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: