Home / Berita Daerah / Kemiskinan Terus Mereproduksi Dirinya Sendiri

Kemiskinan Terus Mereproduksi Dirinya Sendiri

Sosiolog Universitas Padjadjaran Budi Rajab. (DOK. WARTA KENCANA)

Sosiolog Universitas Padjadjaran Budi Rajab. (DOK. WARTA KENCANA)

EDY Purnomo tampak begitu santai memandangi layar komputer di depannya. Pada saat bersamaan, tangan kanannya memegang tetikus yang sesekali diklik untuk memilih opsi di komputer itu. “Maaf ya, saya ngeprint dulu,” kata Edy.  Tak lama kemudian, “Mending sambil menunggu cetak selesai, kita bisa wawancara.”

Dalam wawancara di kantornya itu, Kepala Sub Bidang Bina Kesertaan Keluarga Berencana Wilayah Sasaran khusus Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Jawa Barat ini menjelaskan, tahun ini prioritas pelayanan diberikan kepada wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) dan daerah kumuh perkotaan. BKKBN juga menyisir legokan-legokan yang tersebar di Jawa Barat. “Daerah-daerah itu relatif unik,” ungkap Edy.

 

Budaya Pesisir

Edy menjelaskan, Pantura yang bercorak pesisir memiliki karakteristik budaya yang berbeda dengan pegunungan atau daerah lainnya. Secara administratif kawasan Pantura meliputi Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

Untuk bertemu dengan calon peserta KB, petugas harus menunggu berhari-hari bahkan berminggu. Padahal, di daerah lain hal itu bisa dilayani oleh pelayanan statis atau puskesmas terdekat. “Pantura itu penduduknya datang dari wilayah di luar Pulau Jawa dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Kondisi itu tentunya akan mempengaruhi sikapnya dalam ber-KB. Mereka mencari ikan tentu tak sebentar. Pulangnya pun tak menentu. Jadi, bertemu dengan mereka itu harus dengan keberuntungan,” ujar Edy tersenyum.

Itu dari segi kuantitas, bagaimana dengan kualitasnya? Menurut Edy, saat ini sedang diupayakan agar semua masyarakat mendapatkan pelayanan KB lebih berkualitas. Edy tidak memungkiri kualitas pelayanan KB di daerah pinggiran masih kalah dibanding  kota-kota besar.

“Pelayanan berkualitas ini misalnya jangan sampai terjadi kegagalan pemakaian kontrasepsi. Pelayanan KB untuk masyarakat miskin jangan sampai harus membayar mahal. Selain itu, metode yang diinginkan masyarakat harus tersedia,” kata Edy. Apalagi, lanjut Edy, ini menyangkut kesehatan seseorang.

Selama ini tenaga medis di daerah-daerah pinggiran masih sangat kurang, terutama untuk pelayanan medis operasi pria (MOP) atau KB pria. “Banyak akseptor yang urung karena kekurangan tenaga medis itu. Dengan menetapkan wilayah Pantura sebagai sasaran khusus, semoga para akseptor dapat terlayani,” ujar Edy.

Untuk menggarap kedua daerah tersebut, pihaknya bersinergi dengan instansi terkait. Terutama yang berkaitan dengan kesehatan, tenaga kerja, pendidikan, dan lainnya. “Setiap kita melakukan pelayanan (kontrasepsi), hampir dapat dipastikan kita tak bisa bekerja sendiri, apalagi untuk MOP atau MKJP lainnya,” ungkapnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemilihan metode kontrasepsi dan kepesertaan KB mulai bergeser. Bila sebelumnya KB lebih difokuskan bagi perempuan, kini mulai bergeser kepada pria. Metode ber-KB juga mulai bergeser ke jangka panjang panjang alias MKJP dari yang sebelumnya berkutat pada pil dan suntik. “Memang perubahan itu belum spektakuler,” ungkap Edy.

BKKBN juga mencoba menerapkan model MLM atau multilevel marketing untuk menyasar KB pria.  Dari 20 peserta MOP misalnya, mereka didorong menjadi tenaga motivator untuk bercerita mengenai KB pria. Mereka diberi pelatihan khusus oleh penyuluh KB di tempat mereka. “Semoga mereka dapat menularkan pengalamannya mengenai KB kepada para pria di daerahnya. Dengan begitu, peserta KB Pria terus bertambah,” ungkap Edy.

 

Reproduksi Kemiskinan

Itu cerita Pantura. Lain lagi dengan kumuh perkotaan. Di daerah ini, masyarakatnya sangat dinamis. Hampir seluruh anggota keluarga bekerja untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Itu berlangsung setiap hari, dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam. “Ada yang mulung, ngamen, jualan, tukang sampah. Sehingga mereka sulit untuk ditemui.,” kata Edy.

Kondisi ini diperburuk dengan eratnya ikatan komunal di antara mereka. Pergaulan mereka masih dalam lingkungan itu. “Kecenderungannya, keluarga miskin akan kawin dengan keluarga miskin. Hasilnya keluarga miskin lagi. Itulah kenapa perlu perlakuan khusus,” ungkap Edy. Kecenderungan fertilias mereka pun masih sangat tinggi.

Sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Budi Rajab menilai kemiskinan terus mereproduksi dirinya sendiri. Dia mencontohkan, bila orang tuanya seorang pemulung, maka langsung atau tidak langsung anaknya akan menjadi pemulung. “Jadi, di sinilah harus ada intervensi pemerintah untuk menanggulangi atau memotong penurunan kemiskinan itu,” ujar Budi.

Selain orang miskin itu mempunyai banyak pekerjaan, dalam keluarga miskin pun selalu ada pembagian kerja. “Misalkan ayahnya dagang bakso. Anaknya mulung. Itu cara mereka bertahan. Apalagi, dalam pikiran mereka, tidak ada korelasi antara pendidikan semisal SMP atau SMA dengan peningkatan pendapatan,” ujar Budi.

Bagi masyarakat miskin, anak adalah investasi. Semakin banyak anak, maka semakin besar pula pendapatan mereka. Kepemilikan anak juga merupakan strategi bertahan hidup. Logika yang berkembang, bila salah satu anaknya meninggal, maka orang tua masih memiliki “cadangan”.

Karakteristik masyarakat miskin perkotaan itu menjadi pekerjaan besar BKKBN Jawa Barat. Edy mengaku masih kesulitan untuk menembus daerah ini. “Mereka memang mudah ditemukan, karena pemukiman mereka terkonsentrasi. Namun untuk mengakses ke sana, kita mesti nembus jaring perlindungannya. Masih harus menunggu para preman yang menjaga di sana,” ujar Edy.(NJM)

One comment

  1. Nirvana Paradiso

    hanya dalam dunia dongeng ada orang kaya mau menikah dengan orang miskin. saatnya memutus jaring kemiskinan dengan pembatasan kelahiran dan perbaikan pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: