Home / Berita Daerah / Genjot MOP, Dorong PUP

Genjot MOP, Dorong PUP

PIKR Sinatria membawakan lagu bertema pendewasaan usia perkawinan di Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. (DUAANAK.COM)

PIKR Sinatria membawakan lagu bertema pendewasaan usia perkawinan di Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. (DUAANAK.COM)

DUAANAK.COM – MAJALENGKA

Lilis Nurcahyawati hanya bisa pasrah ketika mendapati kenyataan sebagian perempuan di desanya memutuskan menikah ketika keluar sekolah menengah pertama (SMP). Sebagai Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, Lilis mengaku terpanggil untuk terus mengajak warganya menunda perkawinan saat anak-anak masih belia. Namun apa mau dikata, kuasa orang tua jauh lebih besar dari program pemerintah.

“Sebenarnya anak-anaknya sendiri belum mau menikah. Orang tualah yang memaksa anak-anaknya menikah muda. Bayangkan, baru keluar SMP dinikahkan dengan anak-anak lain yang usia sekitar SMA. Beberapa anak meminta kepada saya untuk membantu memberikan pengertian kepada orang tuanya agar dia bisa meneruskan sekolah. Saya ikut berusaha meyakinkan. Tapi kalau orang tua sudah menolak, mau bagaimana lagi?” kata Lilis yang juga guru salah satu sekolah dasar (SD) di Desa Situwangi ini.

Lilis bercerita, kenyataan miris tersebut tidak lepas dari sejumlah lulusan perguruan tinggi di desanya yang kebetulan bekerja. Sejumlah orang tua perempuan berdalih pendidikan tinggi tidak menjamin keberhasilan atau kesejahteraan di kemudian hari. Padahal, biaya pendidikan terus meroket dari tahun ke tahun.

“Bagi sebagian orang, sekolah itu berarti membuang uang. Makanya banyak orang tua yang memilih memberikan modal usaha daripada menyekolahkan anaknya. Selain menyiapkan mas kawin untuk anaknya, orang tua juga memodali usaha anaknya. Itulah kebiasaan di sini,” sesal Lilis.

Mendapati kenyataan tersebut, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMDPKB) Kabupaten Majalengka Rieswan Graha mengaku akan terus berupaya menggelorakan program kependudkan dan keluarga berencana (KKB). Pemilihan Desa Sangiang yang terletak di perbukitan dan jauh dari sarana transportasi massal sebagai tuan rumah Pekan Gebyar Jabar Tengah pun tidak lepas dari pertimbangan itu. Harapannya, komunikasi informasi dan edukasi (KIE) yang dilakukan secara intensif selama sepakan mampu membuka mata masyarakat akan pentingnya program KKB, pendewasaan usia perkawinan (PUP).

“Bidikan kami adalah PUP dan KB pria. Partisipasi pria dalam ber-KB di Majalengka masih sangat rendah, kurang dari 1 persen. Ini pekerjaan rumah kami untuk menggenjotnya. KB bukan hanya tanggung jawab perempuan, melainkan juga laki-laki,” kata Rieswan.

Tekad serupa juga tumbuh di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) KBB Wahyu Diguna memantapkan tekadnya untuk menggenjot partisipasi KB pria dan mendorong PUP. Wahyu meyakini PUP merupakan salah satu upaya strategis dalam pembangunan daerah.

“KB bukan hanya kontrasepsi, melainkan program terpadu membangun masyarakat. Pemahaman ini penting disampaikan kepada remaja melalui program Generasi Berencana agar mereka memiliki pemahaman utuh tentang program KKB,” kata Wahyu.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: