Home / Berita Utama / Sekretaris IPKB Jabar Terima Wira Karya Kencana

Sekretaris IPKB Jabar Terima Wira Karya Kencana

Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat kepada Najip Hendra SP sesaat setelah menerima penghargaan Wiya Karya Kencana pada puncak peringatan Harganas XXII 2010 di BSD City, Tangerang Selatan, 1 Agustus 2015. (KHAIRUNNAS/BPPKB KAB. BOGOR)

Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat kepada Najip Hendra SP sesaat setelah menerima penghargaan Wiya Karya Kencana pada puncak peringatan Harganas XXII 2010 di BSD City, Tangerang Selatan, 1 Agustus 2015. (KHAIRUNNAS/BPPKB KAB. BOGOR)

TANGSEL – DUAANAK.COM

Sekretaris Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Barat Najip Hendra SP menjadi salah satu penerima penghargaan Wira Karya Kencana (WKK) yang dianugerahkan pemerintah kepada para pengelola dan mitra kerja program kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK) pada puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXII tingkat nasional di lapangan Sunburst, Bumi Serpong Damai (BSD) City, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada 1 Agustus 2015. Najip menjadi satu-satunya penerima penghargaan dari luar kalangan kesehatan dan unsur penyelenggara negara.

Lencana WKK disematkan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty di hadapan Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Kesehatan Nina F Moeloek, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Yembise, Pelaksana Tugas Gubernur Banten Rano Karno, Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmy Diani, dan ribuan undangan lainnya. Penghargaan WKK diberikan kepada 14 orang yang atas dedikasinya kepada program KKBPK.

Dalam kegiatan tersebut, Jokowi juga memberikan Manggala Karya Kencana (MKK) kepada 44 orang yang terdiri dari gubernur, wali kota, bupati, penggerak PKK, serta organisasi dan individu yang peduli terhadap kependudukan dan pembangunan keluarga di daerahnya. Ada lagi penghargaan Dharma Karya Kencana (DKK) kepada 12 orang yang peduli kesehatan keluarga, serta penghargaan Cipta Karya Kencana kepada dua orang yang mencipta lagu atau karya kepada BKKBN.

Di samping itu, Jokowi juga memberikan Tanda Kehormatan Republik Indonesia atau Satya Lencana Pembangunan kepada 26 gubernur dan wali kota/bupati. Penghargaan diberikan oleh pimpinan daerah yang memiliki peran penting dalam pembangunan wilayahnya dan juga negara. Ke-26 gubernur dan walikota tersebut berasal dari Nusa Tenggara Barat, Muara Enim Sumatera Selatan, Tanggamus Lampung, Majalengka Jawa Barat, Sleman Yogyakarta, Pacitan Jawa Timur, Madiun Jawa Timur, Lamongan Jawa Timur, Gresik Jawa Timur.

Kemudian dari Karang Asem Bali, Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, Mamuju Utara, Ponawe Utara Sulawesi Tenggara, Kolaka Utara Sulawesi Tengah, Bolamo Gorontalo, Minahasa Utara Sulawesi Tengah, Minahasa Selatan Sulawesi Utara, Halmahera Timur Maluku Utara, Halmahera Selatan Maluku Utara, Sibolga Sumatera Utara, Tangerang Selatan Banten, Madiun Jawa Timur, Mataram Nusa Tenggara Barat.

Menulis untuk Masa Depan

No document, no history. Begitu kata Leopold von Ranke, sejarawan sekaligus peletak dasar sejarah modern Jerman. Pemeo itu memberi sebuah pesan jelas bahwa dokumen begitu penting dalam mengungkap keabadian serta kekinian yang dapat dirangkul, diinterpretasi, dan dijelaskan. Melalui catatan-catatan itulah sebuah generasi masa depan bisa belajar tentang sebuah bangsa di masa lalu. Karena itu, upaya-upaya pendokumentasian dalam bentuk tulisan –atau bentuk visual lainnya– menjadi sangat penting. Tanpa jejak tertulis, maka akan sangat sulit menemukan sebuah narasi sebuah bangsa atau dinamika sejarah itu sendiri.

Lalu, bagaimana dengan dokumentasi program kependudukan dan keluarga berencana serta pembangunan keluarga? Dengan menggunakan “rumus” yang sama maka sesungguhnya di kemudian hari tak ada program KKBPK di Indonesia tanpa adanya catatan tentang program KKBPK itu sendiri pada masa lalu. Atas dasar itulah segala bentuk penulisan dan pendokumentasian program kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga atau KKBPK menjadi sangat penting. Sekecil apapun upaya itu menjadi sangat berarti, terlebih tak banyak pihak tertarik menulis program KKBPK. Segala bentuk penulisan program KKBPK merupakan sebuah upaya merawat ingatan setiap generasi terhadap program KKBPK.

Najip Hendra SP berbicara pada sebuah pertemuan program KKBPK di Kuningan, Jawa Barat. (DOK. BKKBN JABAR)

Najip Hendra SP berbicara pada sebuah pertemuan program KKBPK di Kuningan, Jawa Barat. (DOK. BKKBN JABAR)

Hal itu pula yang diyakini Najip Hendra Surya Parino. Perhatian utama pada penulisan program KKBPK merupakan sebuah ikhtiar menjaga keberlangsungan program KKBPK itu sendiri. Ikhtiar itu dilakukan sejak beberapa tahun lalu ketika pertama kali berkenalan dengan program KB pada pertengahan dekade 2000-an. Sebagai jurnalis muda yang menaruh perhatian pada masalah-masalah sosial dan kemasyarakat, perkenalan awal dengan program KB begitu membekas di benak Najip. Dia sadar bahwa tak ada masa depan tanpa masa kini dan masa lalu. Sejak itulah tertanam dalam kepalanya sebuah sudut pandang baru bahwa masa depan gemilang hanya akan diraih manakala diawali dengan sebuah langkah pengendalian penduduk. Sudut pandang itu senantiasa terus terpelihara dan berkembang hingga kini.

Sebagai catatan, Najip memulai pergumulannya dengan dunia jurnalistik saat menjadi pegiat Unit Pers Mahasiswa (UPM) di almamaternya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Selain sempat memimpin lini penerbitan surat kabar mahasiswa Isola Pos, pria kelahiran Majalengka 21 Desember 1980 ini sukses membidani lalu kemudian memimpin portal Isola Pos Online. Pada saat yang bersamaan, dia juga mengembangkan media literasi Prasasti di jurusan Pendidikan Sejarah UPI.

Najip memulai karir profesionalnya dengan menjadi reporter sampai kemudian menjadi koordinator liputan di Harian Pagi Radar Bandung, sebuah media lokal milik Jawa Pos Group. Setelah empat tahun, dia memilih memasuki penerbitan buku dengan menjadi editor di Penerbit Salamadani, sebuah anak perusahaan raksasa perbukuan Grafindo Media Pratama yang khusus menerbitkan buku umum di Bandung. Di sinilah dia sempat membantu Shahnaz Haque menulis buku Smart Parenting dan menyunting sejumlah buku, di antaranya 10 buku karya Ustad Yusuf Mansur.

Merasa kurang cocok menjadi pekerja kantoran, lulusan UPI yang menulis skripsi Islam dalam Perspektif Tan Malaka ini kembali memasuki ranah jurnalistik dengan menjadi redaktur di Harian Umum Bandung Ekspres. Potensi lainnya mengantarkan dia ke posisi manajer iklan di media lokal tersebut. Setahun kemudian, Najip ikut membidani koran lokal Sumedang Ekspres di Sumedang yang masih satu grup dengan Bandung Ekspres. Selain menjadi redaktur untuk rubrik ekonomi dan olahraga, Najip juga dipaksa mengoordinasi kegiatan off print dan memimpin divisi pengembangan usaha.

Najip memberikan cinderamata berupa sampul Majalah Warta Kencana kepada mantan Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Siti Fathonah (kini Kepala Pusat Kerjasama Internasional BKKBN) di Bandung, Jawa Barat. (DOK. BKKBN JABAR)

Najip memberikan cinderamata berupa sampul Majalah Warta Kencana kepada mantan Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Siti Fathonah (kini Kepala Pusat Kerjasama Internasional BKKBN) di Bandung, Jawa Barat. (DOK. BKKBN JABAR)

Sadar potensinya terhambat di kota kecil, Najip memutuskan kembali ke Bandung. Di sini Najip kembali menekuni usaha pribadinya, meneruskan jasa manajemen media hingga produksi media yang sempat ditelantarkannya selama di Sumedang. Mengusung nama Litera Media, Najip dipercaya mengelola Majalah Dadali (Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten), Majalah Warta Kencana (Media Advokasi Kependudukan dan Keluarga Berencana Jawa Barat), Majalah Mahoni (Serikat Karyawan Perhutani Pusat), dan Tabloid Alumni Network (media milik Ikatan Alumni UPI). Najip juga menulis sejumlah seri penulisan pembangunan untuk Majalah Gedung Sate milik Humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bersama koleganya sesama alumni Bandung Ekspres, Najip sempat mengelola Majalah Sahabat Mizan Amanah milik lembaga amil zakat nasional Mizan Amanah.

Khusus untuk program KKBPK, Najip memelopori hadirnya sebuah portal media online yang khusus menyoroti isu-isu kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga dengan nama DUAANAK.COM. Portal ini didesain sebagai pusat sumber daya informasi (information resources center) pembangunan KKBPK di Jawa Barat dan sebagian kecil mengambil isu nasional. Di samping itu, Najip juga menulis beberapa kajian berkaitan dengan KKBPK. Beberapa di antaranya adalah policy brief tentang “Kampung KKB sebagai Best Practice Pembangunan Terpadu Kependudukan di Kabupaten Sukabumi” yang dirpakarsai Direktorat Pemaduan Kebijakan Pengendalian Penduduk BKKBN dan “Grand Design Kependudukan Jawa Barat” yang digagas Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Barat. Selain itu, Najip turut mengembangkan buku Seri Informasi Bina Lini Lapangan yang dikembangkan Direktorat Bina Lini Lapangan BKKBN. Najip juga sesekali menjadi narasumber dan moderator pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan KKBPK di Jawa Barat atau pusat. Belakangan, Najip juga dipercaya menjadi juri untuk lomba penulisan dan pidato kependudukan yang dilaksanakan Perwakilan BKKBN Jawa Barat.

Sebagai penyedia jasa pengembangan media, Najip dan Litera Media juga mengerjakan Majalah Lesung (media advokasi pengembangan masyarakat milik FPPM), Warta AMA (media milik Asosiasi Manajer Indonesia), dan sejumlah pekerjaan lain yang lebih parsial. Di bagian lain, Najip kerap menjadi pembicara seputar jurnalistik di sejumlah kampus di Bandung, seperti UPI, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Winaya Mukti, Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bandung, Kelompok Pecinta Alam Mahacita, dan lain-lain. Najip juga mendokumentasikan program Sekolah dan Madrasah Aman dan Hemat Energi (SMAHE) yang diprakarsai Bank Dunia di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Meski begitu, Najip tak pernah menempatkan diri sebagai ahli apapun. Dia menyebutnya sebagai cara belajar. Dia bukan tipe yang melahap banyak buku, kecuali buku yang benar-benar disukainya seperti novel mafia The Godfather atau novel sejarah Inferno. Bagi dia, menulis merupakan cara belajar paling baik karena sesungguhnya menulis merupakan rangkaian tak terpisahkan dari membaca, berpikir, dan menuangkannya dalam tulisan. Ketika mendapat sebauh pekerjaan menulis, maka Najip dengan senang hati menganggapnya sebagai “perintah” belajar. Di sisi lain, menulis merupakan metode pelestarian ilmu pengetahuan. Ya, seperti pesan Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat Nabi dari agama yang dianutnya, “Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya.”

Sebagai pegiat organisasi, Najip sempat memimpin Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah di almamaternya. Pada saat bersamaan, dia aktif sebagai pengurus Unit Pers Mahasiswa UPI. Dia juga membidani kelahiran Komunitas Jurnalis Pendidikan Bandung (Kom JPB) sekaligus menciptakan lambang perkumpulannya, anggota Forum Wartawan Hiburan Bandung, Forum Diskusi Wartawan Ekonomi Bandung, Ikatan Penulis Keluarga Berencana, dan lain-lain. Najip juga menjadi salah satu pengurus Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (Koalisi Kependudukan) Jawa Barat. Di bagian lain, Najip juga berkecimpung di dunia organisasi olahraga sebagai Ketua Bidang Humas dan Publikasi Pengurus Provinsi Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Jawa Barat dan pengurus  Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI) Provinsi Jawa Barat. Memenuhi panggilan almamater, Najip bergabung menjadi Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) yang membidangi komunikasi dan media.

Pada 2010 lalu, Najip bersama sejumlah kawannya membangun sebuah perkumpulan baru yang fokus pada advokasi dan pengembangan media, Studi Komunikasi dan Informasi Pembangunan (eSKIP). Lembaga ini sempat mengerjakan sejumlah buku milik Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal Informal (P2PNFI) Kementerian Pendidikan Nasional, mulai riset materi hingga tata letak dan produksi.

Di antara seabrek aktivitas itu, senantiasa terbentang sebuah benang merah yang menghubungkan Najip dengan rupa-rupa tema tadi. Yakni, kepenulisan. Memang di situlah dia hadir dan mendedikasikan dirinya. Dia percaya bahwa penulisan merupakan sebuah upaya mempertahankan ingatan melawan lupa. Karena masa depan tidak bisa dilepaskan dari masa lalu, maka menulis masa kini merupakan sebuah upaya menghadirkan masa depan. Menulis merupakan sebuah jalan menjaga kekinian dari sebuah kelampauan. Seperti pesan Bung Karno, “Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah!” Jas Merah! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: