Home / Berita Utama / Rebranding Bikin BKKBN Makin Keren

Rebranding Bikin BKKBN Makin Keren

Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Atalia Praratya Kamil sharing tentang Peran PKK dalam Program Banggakencana Jawa Barat di hadapan peserta Rapat Kerja Daerah Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Banggkencana) Provinsi Jawa Barat di Grand Aquilla Hotel, Jalan Dr Djunjunan, Pasteur Kota Bandung, Kamis 5 Maret 2020

BANDUNG | DUAANAK.COM

Rebranding yang dilakukan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendapat apresiasi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Kamil. Bagi Nyonya Gubernur yang akrab Bu Cinta ini, rebranding bikin BKKBN makin keren. Lebih simpel dan kekinian.

“Sebelumnya kita mengenal KKBPK atau kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga. Sekarang simpel dan mudah diucapkan: Banggakencana,” ungkap Atalia saat sharing tentang peran PKK dalam program Banggakencana Jawa Barat di hadapan peserta Rapat Kerja Daerah Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Banggkencana) Provinsi Jawa Barat di Grand Aquilla Hotel, Jalan Dr Djunjunan, Pasteur Kota Bandung, Kamis 5 Maret 2020.

Atalia sempat menyinggung nomenklatur organisasi perangkat daerah (OPD) yang membidangi keluarga berencana di Kabupaten Pangandaran yang viral beberapa tahun lalu. Gara-gara urusan pemerintah yang ditangani sangat banyak, singkatannya pun sangat panjang untuk sebuah nama OPD. Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemerintahan Desa (BP3APK2BPMPD) Kabupaten Pangandaran. Sangat panjang, bukan?

Papan nama Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemerintahan Desa (BP3APK2BPMPD) Kabupaten Pangandaran yang viral beberapa tahun lalu. (UNIDENTIFIED SOURCE)

“Dinas segala urusan. Semua urusan ada di situ. Mengucapkannya sangat susah. Mungkin tidak ada yang hapal kepanjangannya. Jangankan BP3APK2BPMPD, KKBPK saja masih ada yang salah menyebutkan kepanjangannya. Nah, BKKBN meyadari hal itu. Itulah yang kemudian mengubah KKBPK menjadi Banggakencana. Mudah diingat dan diucapkan. Logonya juga keren. Bikin BKKBN makin keren,” kata Atalia.

Menurutnya, logo BKKBN baru sangat ikonik karena mengambil bentuk dasar lambang cinta.  Bentuk ini diyakini bakal menjadikan logo BKKBN cepat melekat di benak masyarakat karena sudah terlebih dahulu dipopulerkan artis K-Pop melalui ucapan “Saranghae” yang berarti “love” atau cinta. Dia lantas mempraktikkan salam BKKBN berupa silang jempol dan telunjuk yang menyimbolkan cinta.

Bunda Generasi Berencana (Genre) Jawa Barat ini meyakini transformasi dari KKBPK menjadi Banggakencana bakal lebih mendekatkan BKKBN kepada masyarakat. Terutama kepada kalangan remaja yang tidak lagi familiar dengan BKKBN.

Sambutan hangat juga datang dari Asisten Administrasi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat Dudi Sudrajat Abdurrachim. Dudi yang mengaku tumbuh besar bersama program KB semasa Orde Baru mengaku tidak asing lagi dengan BKKBN. Cuma saja, dia menyadari dinamika masyarakat berubah.

“Saya tumbuh besar saat mars KB diperdengarkan setiap hari di radio. Generasi saya adalah generasi KB. Tentu saja dinamika berubah. Tidak bisa lagi sebuah program dilakukan dengan pendekatan cara lama, jargon lama. Nah, BKKBN sudah sangat tepat melakukan rebranding. Logo sekarang lebih segar. Lebih menarik bagi milenial,” kata Dudi.

Disinggung alasan rebranding, Kepala Perwakilan BKKBN Kusmana balik bertanya, “Memang BKKBN masih ada?” Menurutnya, pertanyaan itu muncul ketika kaum milenial ditanya tentang BKKBN. Uung, sapaan akrab Kusmana, sangat sering mendapati pertanyaan serupa. Padahal, generasi muda merupakan sasaran program Banggakencana. Mereka adalah market program KB atau Banggkenca.

“Masalah-masalah kependudukan yang muncul sekarang itu dipicu dari hulu. Masalah keluarga. Kasus stunting, kematian ibu, dan lain-lain muncul akibat pernikahan yang dilakukan saat usia belum matang. Karena itu, perencanaan keluarga bagi remaja menjadi sangat penting,” papar Uung.

Penyesuaian diri dengan dinamika baru kependudukan itulah yang kemudian mendorong BKKBN melakukan rebranding. Uung berharap wajah baru BKKBN mampu menjadikan generasi milenial menjadi lebih aware terhadap program Banggakencana. Dengan begitu, ke depan akan terbentuk keluarga-keluarga baru yang bertumpu pada perencanaan matang dan berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Bina Kesertaan Keluarga Berencana Jalur Swasta BKKBN Widwiono yang hadir mewakili Kepala BKKBN menjelaskan, rebranding tidak secara langsung mengubah srtuktur program BKKBN. Alasannya, kelembagaan BKKBN diatur dalam Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Sejauh ini belum ada perubahan nomeklatur kelembagaan BKKBN.

“Tentu BKKBN tetap mengacu kepada Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009. BKKBN tetap mengurus kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga. Perubahan dari KKBPK menjadi Banggakencana semata-mata dilakukan untuk menjadikan citra lembaga lebih dekat kepada kelompok milenial dan zilenial,” papar Widwiono.

Lebih jauh Widwiono menjelaskan, rebranding yang dilakukan tidak dilakukan sendirian. Melainkan melibatkan masyarakat melalui kompetisi yang digelar selama kurun 30 Oktober 2019 hingga 23 November 2019. Responsnya luar biasa. Masyarakat yang mengirimkan karya mencapai 5.196 orang. BKKBN juga mendapat benefit lebih dengan adanya 60 ribu orang mengunjungi website rebranding BKKBN.

Transformasi logo BKKBN dari masa ke masa. (WARTAKENCANA)

Logo baru BKKBN terdiri atas empat komponen utama. Pertama, bentuk hati. Logogram diadopsi dari lambang cinta yaitu hati yang merepresentasikan bahwa awal dari sebuah perencanaan adalah dari kasih sayang keluarga dan keharmonisan keluarga yang didukung dengan lingkungan yang selalu mendukung.

Kedua, bentuk hati dengan bulatan kecil dia atasnya yang berarti merangkul. BKKBN akan selalu berusaha merangkul memfasilitasi dan menjadi partner dalam setiap perencanaan yang dilakukan keluarga dan masyarakat dari anak-anak sampai dewasa. Ketiga, bentuk hati dengan bulatan kecil di samping kiri yang berarti kupu-kupu. Kupu-kupu adalah lambang perencanaan dan proses. Dapat dilihat dari proses metamorfosis kupu-kupu dari seekor ulat hingga menjadi kupu-kupu yang indah.

Keempat, bentuk lintasan yang berpotongan di bagian tengah yang berarti tak terbatas. Bentuk ini menunjukkan bahwa pencapaian harus direncanakan tanpa batas. Setiap jatuh harus bangun tanpa henti. Pun BKKBN tanpa lelah akan terus menjadi partner keluarga dan masyarakat.(NJP)

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: