Home / Berita Utama / Kebahagiaan Keluarga Jabar Nomor Tujuh Terbawah

Kebahagiaan Keluarga Jabar Nomor Tujuh Terbawah

Ilustrasi keluarga bahagia. (MARI-BICARA.COM)

Ilustrasi keluarga bahagia. (MARI-BICARA.COM)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Jawa Barat boleh saja menjadi provinsi dengan jumlah penduduk nomor wahid di Indonesia. Jabar juga merupakan salah satu provinsi utama penyangga ibu kota. Di Jabar pula terdapat sejumlah lembaga pendidikan terkemuka plus berkantornya sejumlah badan usaha milik negara (BUMN).

Rupanya sederet predikat prestisius itu tak lantas membahagiakan masyarakat Jawa Barat. Hasil survei terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar bulan kemarin menunjukkan indeks kebahagiaan Jawa Barat tahun 2014 sebesar 67,66 pada skala 0-100. Angka ini menempatkan Jawa Barat di posisi ke-28 alias tujuh terbawah dari 34 provinsi yang disurvei. Capaian ini hanya unggul dari Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Bengkulu,Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Adapun indeks kebahagiaan nasional berada pada angka 68,28.

Indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial. Kesepuluh aspek tersebut secara substansi dan bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap: 1) kesehatan, 2) pendidikan, 3) pekerjaan, 4) pendapatan rumah tangga, 5) keharmonisan keluarga, 6) ketersediaan waktu luang, 7) hubungan sosial, 8) kondisi rumah dan aset, 9) keadaan lingkungan, dan 10) kondisi keamanan.

Dalam berita resminya BPS menjelaskan, indeks kebahagiaan merupakan rata-rata dari angka indeks yang dimiliki oleh setiap individu di Jawa Barat pada 2014. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan yang semakin bahagia, demikian pula sebaliknya, semakin rendah nilai indeks maka penduduk semakin tidak bahagia.

Indeks Kebahagiaan Indonesia dirilis pertama kali pada 2013 berdasarkan hasil studi dengan representasi estimasi tingkat nasional. Pada tahun 2014, BPS kembali melaksanakan pengukuran tingkat kebahagiaan penduduk Indonesia melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) 2014 dengan cakupan sampel yang dapat digunakan untuk estimasi tingkat nasional maupun provinsi.

Responden SPTK 2014 adalah kepala rumah tangga atau pasangannya. Untuk Jawa Barat, jumlah sampel sebesar 5.990 rumah tangga yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Menurut wilayah, komposisi responden di perkotaan lebih besar dibanding perdesaan, masing-masing 63,88 persen dan 36,12 persen. Sebanyak 57,86 persen responden adalah kepala rumah tangga, sedangkan lainnya adalah pasangan kepala rumah tangga (istri/suami). Berdasarkan jenis kelamin, responden perempuan lebih banyak dibanding responden laki-laki, yaitu masing-masing 55,34 persen dan 44,66 persen. Selain itu, sebagian besar responden berpendidikan tamat SD/MI (35,88%) dan hanya sekitar 8,74 persen responden yang tamat perguruan tinggi.

Hasil survei juga menunjukkan aspek kehidupan yang memiliki kontribusi paling tinggi adalah pendapatan rumah tangga (14,28%), pekerjaan (12,91%), serta pendidikan (12,68%). Tingkat kepuasan penduduk Jawa Barat terhadap keharmonisan keluarga adalah paling tinggi (78,31). Sementara itu, tingkat kepuasan yang paling rendah terjadi pada aspek pendidikan (57,68).

Beberapa temuan menarik yang dihasilkan dari indeks kebahagiaan Jawa Barat berdasarkan karakteristik demografi dan ekonomi bisa dilihat di bawah ini. (BPS JABAR/NJP)

  1. Indeks kebahagaian penduduk di perkotaan relatif lebih tinggi dibandingkan di perdesaan (68,54 banding 66,04).
  2. Penduduk berstatus belum menikah dan menikah cenderung relatif sama indeks kebahagiaannya, yakni sekitar 68. Mereka yang berstatus cerai lebih rendah indeks kebahagiaannya, yaitu cerai hidup (65,11) dan cerai mati (64,44).
  3. Penduduk umur antara 25 – 40 tahun memiliki indeks kebahagiaan tertinggi (68,49), sementara, penduduk lansia (kelompok umur 65+) mempunyai indeks kebahagiaan paling rendah (64,46).
  4. Ada kecenderungan dengan makin banyak anggota rumah tangga, maka indeks kebahagiaan cenderung semakin tinggi. Namun hal ini hanya berlaku hingga anggota rumah tangga sebanyak 4 orang. Ketika jumlah anggota rumah tangga meningkat menjadi 5 atau lebih, maka indeks kebahagiaan cenderung menurun.
  5. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula indeks kebahagiaan. Penduduk yang tidak/belum pernah sekolah mempunyai indeks kebahagiaan paling rendah (60,36), sementara indeks kebahagiaan tertinggi pada penduduk dengan tingkat pendidikan S2 atau S3 (77,94).
  6. Semakin tinggi rata-rata pendapatan rumah tangga, semakin tinggi pula indeks kebahagiaannya. Pada tingkat pendapatan lebih dari 7,2 juta rupiah per bulan, indeks kebahagiaannya mencapai 75,42, sementara pada tingkat pendapatan 1,8 juta rupiah ke bawah maka indeks kebahagiannya hanya 63,87.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: