Home / Berita Utama / Fasli Jalal: Jangan Sampai Kita Meninggalkan Generasi Lemah

Fasli Jalal: Jangan Sampai Kita Meninggalkan Generasi Lemah

Sejumlah anak TKI di Indramayu menyampaikan kerinduan mereka pada sosok seorang ibu. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Sejumlah anak TKI di Indramayu menyampaikan kerinduan mereka pada sosok seorang ibu. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

INDRAMAYU – DUAANAK.COM

Ada pesan bersama di antara agama-agama besar dunia. Janganlah meninggalkan generasi yang lemah! Pesan inilah yang dikutip Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal sesaat sebelum soft launching Model Integratif Solusi Strategik Keluarga TKI di Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Rabu pagi 15 Oktober 2014.

Fasli yang hadir didampingi Kepala Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Gatot Abdullah Mansyur dan Bupati Indramayu Ana Sophanah juga mengutip sebuah ayat yang mengatakan bahwa Allah swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali atas upaya kaum itu sendiri. Nasib suatu bangsa, imbuh Fasli, bergantung kepada sejauhmana bangsa yang bersangkutan.

“Atas dua hal itulah mengapa hari ini menjadi begitu penting bagi kita semua. Pertama, kita sedang berusaha mengubah nasib kaum kita. Dalam konteks yang lebih dekat di Desa Tinumpuk, yang lebih luas di Kabupaten Indramayu, lebih luas lagi Jawa Barat, dan akhirnya mengubah nasib bangsa kita secara nasional,” ungkap Fasli di hadapan ratusan warga yang sebagian besar di antaranya merupakan mantan TKI dari berbagai negara di dunia.

Kedua, sambung Fasli, upaya mengubah nasib tersebut senantiasa bertumpu kepada kualitas sumber daya manusia (SDM). Yakni, kualitas anak-anak bangsa. Karena, hanya anak-anak yang tidak lemah, yang berkualitas, yang diyakini mampu melakukan perubahan tersebut. Fasli meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa hanya bisa dilakukan melalui keberdayaan masyarakat, terutama anak-anak yang berkualitas.

Kaitannya dengan pemberdayaan keluarga TKI, Fasli mengingatkan bahwa pada dasarnya para tenaga kerja wanita (TKW) sudah berdarah-darah di luar negeri untuk menghidupi keluarga yang ditinggalkan. Sayangnya, peran tersebut harus diikuti dengan pengorbanan besar meninggalkan peran seorang ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka.

Karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk bersama-sama memberikan kompensasi kepada anak-anak TKI agar mereka mendapatkan pengasuhan dan pendidikan berkualitas. Adalah masyarakat di sekitar mereka yang sejatinya berperan menjadi orang tua bagi anak-anak tersebut. Terlebih dari sisi pendidikan Pemerintah Kabupaten Indramayu telah menggulirkan wajib belajar 12 tahun bagi seluruh masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah juga menyediakan beasiswa Bidik Misi bagi setiap anak berprestasi dari kalangan tidak mampu. Dengan begitu, ketika lulus pendidikan dasar bisa mengikuti pendidikan tinggi melalui biaya pemerintah.

“Tahun ini pemerintah menyediakan 60 ribu beasiswa Bidik Misi. Pemerintah juga menyediakan beasiswa dari dana abadi pendidikan melalui Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) untuk S2 dan S3. Sampai tahun ini sudah tersedia Rp 16 triliun. Beasiswa ini diberikan kepada anak-anak Indonesia yang pintar untuk mengikuti pendidikan di 200 perguruan tinggi terbaik di dunia, apakah di Harvard, Oxford, maupun perguruan tinggi lainnya,” tandas mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendididikan dan dan Kebudayaan tersebut.

Bekas Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini juga meminta masyarakat untuk merelakan kepergian para TKI untuk mencari penghidupan di luar negeri. Dengan catatan, pemerintah dan masyarakat memberikan kompensasi berupa pengasuhan dan pendidikan bagi anak-anak yang ditinggalkan.

“Sehingga ketika kelak mereka besar mereka bisa menggantikan peran orangtuanya dengan lebih baik. Kalaupun mereka ingin bekerja di luar negeri, mereka bekerja sebagai tenaga profesional, baik insinyur perminyakan di Qatar, teknisi perkapalan, manajer hotel di Kazakhstan, marketing di Australia, dan lain-lain. Dengan pendidikan memadai, hal itu sangat mungkin bisa terwujud. Terlebih negara-negara lain banyak mengalami defisit tenaga kerja akibat pertumbuhan penduduk tua. Pada saat yang sama, Indonesia tengah memasuki bonus demografi yang berarti penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan beban penduduk nonproduktif yang harus mereka tanggung,” Fasli menandaskan.(NJP)

One comment

  1. Hal ini memacu orang tua untuk menjadi lebih baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: