Home / Berita Utama / Bu Cinta Atalia Ajak UPPKS Manfaatkan Peluang Ekonomi Era New Normal

Bu Cinta Atalia Ajak UPPKS Manfaatkan Peluang Ekonomi Era New Normal

Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Atalia Ridwan Kamil menyampaikan salam BKKBN saat menjadi narasumber webinar “New Normal Bangga Kencana”. Jalannya webinar masih bisa diikuti melalui channel Youtube BKKBN Jawa Barat.

BANDUNG | WARTA KENCANA

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil mengajak Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) di Jawa Barat untuk terus membangun ekonomi keluarga pada masa penormalan baru (new normal). Caranya dengan cerdas membaca peluang usaha untuk menghasilkan produk yang diminati masyarakat.

Bu Cinta, sapaan Atalia Praratya Ridwan Kamil, mengungkapkan hal itu saat menjadi narasumber dalam webinar atau seminar daring tentang “New Normal Bangga Kencana: Masa Depan Pelayanan Bangga Kencana Pascapandemi Covid-19” pekan kemarin. Pada webinar yang turut menghadirkan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dan Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Jawa Barat Ferry Hadiyanto ini, Atalia secara khusus berbicara tentang “Implikasi Covid-19 terhadap Ekonomi Keluarga”.   

Webinar dihadiri 300-an peserta melalui aplikasi Zoom dan ratusan lainnya mengikuti jalannya webinar melalui live streaming Youtube pada channel BKKBN Jawa Barat. Partisipan berasal dari pengelola program Bangga Kencana di Indonesia, para kepala organisasi perangkat daerah yang membidangi Bangga Kencana (OPD KB) di kabupaten dan kota se-Jawa Barat, dan para Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat. Penyiar Hardrock FM Bandung sekaligus public speaker Vivie Novidia sukses memandu jalannya diskusi secara hangat dan interaktif. 

“Wabah Covid-19 memang berdampak luas pada kehidupan kita. Sebagaimana diberitakan di sejumlah media, banyak di antaranya keluarga kelaparan. Ada keluarga pemulung yang tidak bisa makan selama dua hari. Ada mencoba bertahan dengan hanya makan nasi dan cabai. Bahkan, ada di antaranya yang terpaksa mencuri beras untuk bisa makan. Ini kondisi yang kita hadapi selama pandemi Covid-19. Kita harus bersama-sama menghadapinya,” kata Atali Cinta penuh iba.

Atalia lantas bercerita pengalamannya saat terjun ke masyarakat bersama tim Jabar Bergerak. Menurutnya, para penerima bantuan tersebut sangat bersyukur karena mendapat bantuan langsung dari pemerintah maupun hasil penggalangan dari masyarakat. Sebagian di antaranya menangis saking bahagianya ketika menerima bantuan di tengah kelaparan.

Namun begitu, Atalia mengajak warga Jawa Barat untuk tabah menghadapi cobaan sambil terus berusaha untuk bangkit pada masa penormalan baru alias adaptasi kebiasaan baru (AKB). Master Ilmu Komunikasi jebolan Universitas Pasundan (Unpas) ini  tidak memungkiri wabah korona menghantam demikian berat perokonomian keluarga.

Atalia menyampaikan alur pengurusan Kredit BJB Mesra yang bisa diakses Kelompok UPPKS.

“Wabah korona ini berdampak pada hilangnya pendapatan rumah tangga. Pekerja yang dirumahkan dan kena pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 1,5 juta. Impor kita juga pada triwulan I 2020 turun 3,7 persen. Sementara inflasi Mei 2020 mencapai 2,19 persen. Artinya, semua terkena dampak. Pada level mikro di keluarga maupun ekonomi nasional kita,” papar Atalia.

“Saya menyampaikan pesan Pak Gubernur untuk terus optimistis dan kreatif membaca peluang. Termasuk bagi para pegiat UPPKS agar bergerak memanfaatkan peluang pascapandemi nanti. Pada penormalan baru nanti kita tidak bisa kembali seperti sebelum adanya wabah. Kita akan memasuki normal yang baru. Mari kita manfaatkan peluang pada periode baru tersebut,” tambah Atalia.

Apa saja peluang usaha yang bakal hadir pada periode AKB atau penormalan baru tersebut? Belajar dari masa pandemi, Atalia menyebut sejumlah usaha yang kolaps dan sebagian lain yang bertahan. Bahkan, ada juga di antara jenis usaha yang meningkat selama pandemi. Nah, usaha-usaha itulah yang kemudian menjadi peluang bagi Kelompok UPPKS ke depan. Sektor yang justru bangkit pada masa pandemi tersebut antara lain makanan, kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, produk kesehatan pribadi, dan retail.

Mengutip sebuah portal berita, Atalia mencontohkan pergeseran bisnis yang diambil Ayu Artati, warga asal Petang Kabupaten Badung, Bali, yang sebelum pandemi membuka usaha jualan baju anak dengan merek AySea Baby. Wabah Covid-19 tiba, bisnis Ayu mengalami penurunan tajam. Sang suami pun menjelang status unpaid leave akibat kebijakan perusahaan tampatnya bekerja. Ayu lantas berkreasi membuat roti. Walhasil, pasarnya ternyata bagus dan banyak yang memesan.

Atalia juga mencontohkan pebisnis Solo, Anne Patricia Sutanto, yang sukses membaca peluang bisnis di tengah pandemi Covid-19. Anne merupakan Vice CEO Pan Brothers, perusahaan yang memproduksi kain, benang, dan juga pakaian jadi. Pans Brothers mengoperasikan 25 pabrik di tiga provinsi di Pulau Jawa dan memasok 46 merek ternama dunia seprti Adidas, Nike, Uniqlo, dan New Balance.

Di balik pakaian yang terancam tak lagi ramai seperti biasanya, Pan Brothers berhasil melihat peluang usaha baru. Pan Brothers banting setir memproduksi masker kain dan baju hazmat. Alat pelindung diri (APD) yang diproduksi mereka telah diekspor karena diminati pasar luar negeri. Hal ini disebabkan karena fungsi APD dan masker medis yang dibuat dapat dicuci hingga 30 kali. Hingga April lalu, Pan Brothers telah memproduksi lebih dari 10 juta lebih masker.

“Kondisinya tentu tidak sama antara satu usaha dengan usaha lainnya. Namun, kita jangan berhenti membaca peluang untuk menghadapi tantangan yang dihadapi. Secara umum, tantangan usaha sebenarnya relatif sama. Yakni, seputar produk, modal, sumber daya manusia (SDM), dan pemasaran. Nah, tugas para pelaku usaha untuk menemukan produk yang dibutuhkan,” ungkap komisaris Urbane Indonesia tersebut.

Atalia merinci upaya yang bisa dilakukan kelompok UPPKS pada masa penormalan baru.

Selain dibutuhkan, sambung Atalia, pelaku usaha juga dituntut untuk membuat produk yang disukai. Setelah itu, bagaimana agar produk yang terbukti dibutuhkan dan disukai tersebut bisa diketahui publik. Lebih dari sekadar diketahui, target akhirnya adalah bagaimana agar produk bisa dibeli konsumen. Dengan potensi besar yang dimiliki, Atalia berharap kelompok UPPKS bisa membaca peluang ekonomi baru pada era new normal.

Bu Cinta lantas merinci sejumlah upaya yang bisa dilakukan UPPKS selama masa pandemi maupun pada babak penormalan baru. Pertama, Kelompok UPPKS bisa memproduksi masker yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat. Kedua, UPPKS bisa berperan menjadi penyuplai kebutuhan masyarakat selama masyarakat tetap berada di rumah. Dalam hal ini, UPPKS menjual bahan pokok secara daring atau layanan antar. Ketiga, UPPKS memproduksi minuman penambah daya tahan tubuh seoerti minuman rempah-rempah. Produk dijual secara daring untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Produk UPPKS ini cukup beragam. Ada olahan makanan, fashion, craft, perhiasan, batik, APD, dan lain-lain. Ini bisa dipasarkan secara offline maupun online di media sosial. Yang terbaru misalnya, UPPKS mengembangkan pasar online melalui instagram dan facebook dengan akun Rumpaka Balantik. Saya mengapresiasi Kelompok UPPKS Jawa Barat yang telah merambah media sosial untuk memasarkan produknya,” ujarnya bangga.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: