Home / Berita Utama / Awas, Penduduk Usia Produktif Hasilkan Sampah Lebih Banyak!

Awas, Penduduk Usia Produktif Hasilkan Sampah Lebih Banyak!

Tumpukan sampah di salah satu sudut Kota Bandung. (PASARSAMPAH.WORDPRESS.COM)

Tumpukan sampah di salah satu sudut Kota Bandung. (PASARSAMPAH.WORDPRESS.COM)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Bonus demografi yang digadang-gadang menghadirkan peluang ekonomi (windows of opportunity) bisa jadi hanya isapan jempol. Sebaliknya, kelompok usia produktif yang tidak berkualitas hanya menambah beban. Apalagi tingkat konsumsi kelompok ini lebih besar dari usia anak-anak maupun lanjt usia (Lansia).

Mengacu kepada proyeksi yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Jawa Barat akan bertambah menjadi sekitar 50 juta jiwa pada 2020 mendatang. Dari jumlah itu, sekitar 68-69 persen di antaranya merupakan penduduk usia produktif. Sudah barang tentu kelompok ini membutuhkan pangan, lapangan pekerjaan, maupun hunian.

“Penduduk usia produktif membutuhkan pangan yang lebih banyak. Mereka lebih banyak makan dari anak-anak dan lansia. Manusia produktif itu perlu energi lebih banyak karena mobilitasnya juga tinggi. Mereka juga memproduksi sampah lebih banyak,” kata pengamat kependudukan Saut PS Munthe saat berbincang dengan duaanak.com di kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat belum lama ini.

“Kalau 50 juta dengan produktivitas sampah tinggi tidak dikelola dengan baik, saya kira kita akan mengalami bencana lingkungan, seperti longsor atau. Apalagi, sampah masa depan itu makin bervariasi. Kalau dulu sampah itu kebanyakan daun, sebentar lagi telepon seluler atau HP bekas terserak dalam bentuk sampah. Sampah masa depan itu semakin sulit terurai secara alamiah. Kalau tidak di-manage dengan baik akan menjadi bencana nasional,” pengurus Koalisi Kependudukan ini menambahkan.

Saut kemudian mencontohkan “darurat” sampah seperti melanda Bandung dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Setiap hari manusia menghasilkan sampah. Di sisi lain, sampah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik. Sampah hanya dibuang di lahan terbuka seperti tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah atau Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. Akibatnya, sampah yang menggunung tersebut kemudian longsor dan menewaskan puluhan jiwa.

“Itu baru dengan jumlah penduduk di bawah 40 juta. Bagaimana dengan jumlah penduduk Jawa Barat 50 juta? Berapa banyak sampah yang dihasilkan? Bagaimana cara mengelolanya? Kalau hanya dibuang seperti sekarang, butuh berapa banyak lahan yang digunakan untuk membangun TPA. Lama-lama lahan habis hanya untuk menampung sampah. Belum lagi lahan untuk kebutuhan pertanian dan hunian,” tandas Saut.

Karena itu, Saut mewanti-wanti agar pemerintah memberikan perhatian kepada aspek kependudukan. Baik ddalam bentuk respons terhadap dampak kependudukan. Persiapan menyangkut bidang pendidikan, agama, dan kesehatan. Dengan demikian, penduduk usia produktif bukan saja secara usia, melainkan produktif dalam pengertian berdaya guna, menghasilkan.

Dalam bentuk respons, tambah Saut, pemerintah harus mampu memetakan masalah-masalah yang bakal timbul dengan jumlah penduduk 50 juta jiwa. Dia mencontohkan, sekarang sudah saatnya digagas pengembangan hunian atau perkantoran vertikal. Pengembangan ini termasuk di dalamnya membangun budaya hidup dalam hunian vertikal.

“Kalau perumahan di Jabar selalu menyamping, habis sawah kita. Rumah di Jabar ini harus mulai ke atas. Ini gak mudah. Secara teknis gampang membangun rumah tingkat tiga atau lima. Tapi, secara budaya ini tidak mudah. Makanya saya suka sarankan, di desa-desa bikin gedung sekolah itu bertingkat supaya mereka terbiasa naik-turun bangunan tinggi,” cetus Saut.

Sampah Elektronik

Tumpukan sampah elektronik. (WWW.MTHOLYOKE.EDU)

Tumpukan sampah elektronik. (WWW.MTHOLYOKE.EDU)

Sementara itu, sebuah riset yang dikutip Majalah Marketeers mengungkapkan pada tahun 2017 nanti volume sampah elektronik bakal makin meroket. Secara global, sampah elektronik seperti kulkas, TV, ponsel, monitor, dan produk elektronik lainnya kalau ditumpuk akan seberat 200 kali Empire State Building pada tahun 2007.

Prediksi tersebut didasarkan pada data yang dikumpulkan organisasi PBB, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga ilmu pengetahuan dalam kemitraan yang diberi nama “Solving the E-Waste Problem Initiative” (StEP).   StEP membuat peta secara online dari keberadaan sampah-sampah elektronik tersebut.

Sampai saat ini, data sampah elektronik global secara komprehensif susah didapatkan dan banyak negara memiliki definisi sampah elektronik yang berbeda. Amerika Serikat, misalnya, sampah elektronik ini hanya mencakup produk elektronik konsumen, seperti TV dan komputer. Sedangkan negara-negara Eropa memasukkan baterai dan kabel listrik ke dalam kategori sampah elektronik.

“Inilah sebabnya mengapa kami membuat dan mengembangkan peta sampah elektronik ini. Ini untuk pertama kalinya kami memperkenalkan data yang benar-benar sebanding,” ujar Ruediger Kuehr dari United Nations University di Jerman.

Kuehr menambahkan program pemetaan sampah elektronik ini diharapkan mampu mengubah kebijakan-kebijakan pemerintah, khususnya dalam mereduksi sampah elektronik dan mendukung pelestarian lingkungan. Peta sampah elektronik ini menampilkan data dari 184 negara. Dengan peta ini, diharapkan masing-masing negara bisa mengolah sampah elektronik tersebut.

Pada tahun 2012, dunia menghasilkan hampir 54 juta ton untuk sampah dari produk listrik dan elektronik. Ini bisa berarti masing-masing dari tujuh miliar penduduk bumi memiliki sampah sebesar delapan batu bata.

StEP Inisiative memperkirakan pada tahun 2017 dunia memproduksi sampah sekitar 33 persen atau 72 juta ton. Berat sampah ini bisa sebanding dengan 11 kali dari berat Piramida Agung di Giza.

China saat ini memimpin dalam produksi peralatan listrik dan elektronik. Pada tahun 2012, China memproduksi 12,2 juta ton disusul Amerika Serikat dengan 11 juta ton.  Tapi, dari sisi sampah, Amerika Serikat bisa menduduki tempat paling tinggi mengingat banyak produk China yang turut membanjiri pasar Amerika dan akan segera pensiun menjadi sampah. Pada tahun 2012, Amerika memproduksi 10,4 juta ton dan China sebesar 8 juta ton.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: