Home / Artikel / Mewaspadai Pertumbuhan Penduduk

Mewaspadai Pertumbuhan Penduduk

Husein Fauzan (DOK. PRIBADI)

Husein Fauzan (DOK. PRIBADI)

Oleh
Husein Fauzan Putuamar
Pengurus IPKB dan pengajar pada STIKes Cirebon

Isu kependudukan memang kurang menarik, tidak seperti isu pemilu legislatif atau pemilihan presiden yang baru saja kita laksanakan beberapa waktu lalu. Padahal perlu dicatat, sesungguhnya kegagalan dalam penanggulangan penduduk akan sangat berdampak pada suksesnya sebuah pemilu. Bayangkan, ngurus pemilu untuk negeri berpenduduk sekitar 251 juta jiwa saja terkesan semrawut dan karut marut. Apa jadinya pemilu bila penduduk negeri ini tanpa pengendalian.

Adalah Prof. Dr. Ganjar Kurnia, seorang pakar demografi yang kini Rektor Universitas Pajajaran Bandung, dalam sebuah prolog seminar kependudukan beberapa waktu lalu pernah bercerita. Sang professor itu mengisahkan sebuah penelitian klasik tentang  pengaruh kepadatan penduduk terhadap prilaku kehidupan manusia. Studi eksperimen itu, Calhoun, mencoba mendesain sebuah perkampungan buatan yang laik huni hanya oleh 45 ekor tikus. Selama proses studi berlangsung, kebutuhan air dan makanan disuplai secukupnya. Sehingga binatang  percobaan ini memungkinkan  tumbuh dan berkembang biak secara alami.

Namun, sungguh sangat mengejutkan! Ketika populasi tikus itu telah berkembang mencapai sekitar jumlah dua kali lipat, berbagai reaksi aneh atau “kelainan” mulai muncul. Konon sebagian dari mahluk percobaan itu bertingkah berlebihan, termasuk overseksual. Sebagian lagi berkelakuan homoseksual. Bahkan, ada yang menjadi kanibal. Mereka memangsa tikus-tikus kawan bahkan mungkin saudaranya.

Studi itu juga mengungkapkan bermacam-macam kejadian, yang sekaligus mengisyaratkan “lonceng kiamat” bagi kehidupan generasi para tikus berikutnya. Lebih jauh digambarkan, apabila  bayi-bayi tikus yang dilahirkan  itu tidak segera mati, maka hidup dalam keadaan fisik yang tidak normal. Menjelang studi itu berakhir, seluruh populasi tikus berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, mengenaskan, dan menyengsarakan. Bahkan, semuanya di ambang kematian.

Tidak kurang dari 30 tahun yang lalu, gambaran persoalan akibat  pertumbuhan penduduk, telah  mendapat perhatian dunia, terutama setelah dipublikasi adanya isu global Limits to Growth, hasil penelitian kelompok Massachuttes Institute of Technology (MIT), suatu kelompok kerja dari Roma yang mengemukakan dalam bahasa sederhana bahwa kekenderungan-kecenderungan pembangunan yang dilakukan oleh umat manusia seperti di lakukan pada masa lampau, maka pertumbuhan bumi ini akan melampaui batas-batas kemampuan. Sehingga akan mengalami bencana dalam beberapa generasi mendatang (kiamat?), setelah kelompok MIT meneliti secara global dengan model komputer terhadap pertumbuhan di bumi, yang meliputi pertumbuhan penduduk, pengadaan pangan, penggunaan sumber daya alam, pengembangan industri dan moneter, serta polusi.

Apabila diamati secara seksama, sebab utama bencana itu logis merupakan sebab akibat pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, di samping timbulnya egoisme dan keserakahan umat manusia. Sehingga, kurang peduli terhadap kepentingan generasi mendatang. Barangkali banyak benarnya pepatah yang mengatakan bahwa bumi ini bukan warisan nenek moyang, melainkan pinjaman anak cucu kita.

 

Lonjakan Penduduk

Dalam sebuah media, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) merilis data dari Peserikatan  Bangsa Bangsa (PBB) yang memperkirakan jumlah penduduk dunia pada  Oktober  2011 mencapai tujuh miliar jiwa.

Konon, hampir dua abad yang lalu atau sekitar tahun 1830, bumi yang kita pijak hanya berpenghuni sekitar satu miliar saja. Kemudian pada tahun 1927 atau sekitar  97 tahun kemudian, jumlah planet bumi ini dihuni dua miliar manusia. Artinya, setiap tahun selama periode itu rata-rata pertumbuhan penduduk sekitar sebesar 10 juta jiwa. Kemudian setelah 33 tahun atau sekitar tahun 1960, jumlah penduduk itu menjadi tiga miliar. Ini berarti, dalam kurun waktu hanya 33 tahun saja, pertumbuhannya mencapai satu miliar atau rata-rata 30,3 juta per tahun. Pertumbuhan yang fantastis.

Kemudian, 14 tahun kemudian atau sekitar tahun 1974, angka itu menjadi empat miliar. Berarti, setiap tahun, rata-rata pertumbuhannya lebih dari 71 juta. Dan, setelah 13 tahun atau sekitar tahun 1987 angkanya merangkak menjadi lima miliar. Pertumbuhannya rata-rata per tahun sekitar 77 juta.

Pada tahun 1999 atau setelah 12 tahun berjalan, jumlah penduduk di alam raya ini mencapai enam miliar. Berarti pertumbuhan penduduknya rata-rata per tahun mencapai tidak kurang dari 83 juta. Dan, pada 2011 atau 12 tahun kemudian penduduk dunia berjumlah tujuh milyar yang pertumbuhannya per tahun masih sama, tidak kurang dari 83 juta.

Uraian di atas menunjukkan bahwa hanya dalam 12 tahun, penduduk dunia meningkat sebanyak satu miliar jiwa. Badan kependudukan PBB, United Nations Population Fund (UNFPA) mencatat bahwa saat ini pertumbuhan penduduk dunia terbilang ekstracepat.  Bayangkan, pertumbuhan penduduk satu miliar dilahirkan hanya dalam periode tahun 1999-2011, atau 12 tahun saja. Pada periode itu, jumlah penduduk dunia naik dari enam miliar menjadi tujuh miliar jiwa.

Bandingkan dengan pertumbuhan penduduk pada abad ke-18 hingga ke-19. Penambahan satu miliar jiwa ternyata dicapai dalam kurun waktu sekitar satu abad. Pertumbuhan sebanyak itu terjadi pada periode 1830 dengan penduduk satu miliar dan menjadi dua miliar pada tahun 1927.

Sesungguhnya kondisi angka “tujuh miliar” antara lain masih diliputi dengan kemiskinan penduduk yang cukup ekstrem, ketidaksetaraan, tingginya angka mortalitas dan fertilitas. Potret lain yang dapat dilihat adalah semakin bertambahnya jumlah penduduk dibawah usia 25 tahun yang saat ini mencapai tiga miliar, dan 1,8 miliar di antaranya berada pada usia 10-24 tahun. Ironisnya, tingkat pengangguran di kalangan mereka minimal dua kali lipat di bandingkan tingkat pengangguran secara umum. Lebih ironis lagi, 40 persen pengidap baru HIV (virus penyebab AIDS) adalah remaja usia 15 -24 tahun.

Potret lain menunjukan 16 juta remaja perempuan tiap tahun menjadi ibu dengan komplikasi kehamilan dan persalinan. Hal ini menyebabkan terjadi kematian maternal di kalangan remaja di sejumlah negara berkembang.

Pada sisi lain penduduk lanjut usia (Lansia) jumlahnya semakin tinggi. Indonesia merupakan negara dengan porsi lansia nomor empat terbesar di dunia, seperti halnya jumlah penduduk secara keseluruhan setelah China, India dan Amerika. Hanya saja persoalan lansia di Indonesia kurang mendapat perhatian. Konon di Singapura atau Amerika Serikat, jalan–jalan dibuat sesuai kebutuhan lansia maupun masyarakat umum. Sehingga para lansia merasa diperlakukan secara adil dan terhormat.

Tumbuhnya kota-kota di berbagai negara turut menjadi pemicu membludaknya penduduk. Di mana pun di belahan bumi planet ini, kota sementara ini benar-benar dijadikan tempat lebih dari separuh penduduk dunia berebut rizki untuk mempertahankan hidup. Pada satu sisi, kota menawarkan perbaikan kualitas hidup, namun dalam sisi lain kota juga yang berpotensi mendera kehidupan manusia itu sendiri. Masalah pemukiman, penyediaan air bersih, polusi, dan berbagai akibat sosial yang ditimbulkan, diperkirakan akan menjadi persoalan yang serius pada masa kini dan akan datang. Macet dan banjir di Jakarta saja sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah Gubernur Jokowi, yang kita tidak tahu sampai kapan penyelesaiannya.

Melihat fenomena itu, solusi yang perlu dan segera adalah program pengendalian pertumbuhan penduduk yang konsisten di berbagai daerah kabupaten/kota. Persoalan kependudukan bukan persoalan sektoral tetapi sudah menjadi isu global. Sebut saja laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 1,49 persen per tahun, artinya populasi Indonesia  bertambah 3,5 juta hingga 4,0 juta per tahun. Kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan penduduk dunia.

Dengan demikian, maka program-program pembangunan yang dilakukan seyogyanya lebih mengutamakan keberpihakan kepada persoalan kependudukan, atau dengan istilah lain adalah program yang berorientasi kependudukan. Sehingga, pembangunan yang dilakukan pemerintah merupakan pembangunan yang berwawasan kependudukan.

Berbicara penduduk, paling tidak, kita akan dihadapkan pada empat persoalan pokok, yaitu kuantitas penduduk, kualitas penduduk, mobilitas penduduk, dan administrasi penduduk. Dengan tidak mengecilkan persoalan yang lain, khusus untuk pengendalian kuantitas dan peningkatan kualitas penduduk, perlu dilakukan dengan manajerial yang cerdas dan profesional. Bagaimana mengatur penduduk yang tadinya menjadi obiek, diberdayakan dan ditata menjadi subjek pembangunan. Yang tadinya beban, didesain menjadi kekuatan. Bahkan, yang tadinya hambatan disulap menjadi peluang pembangunan.

Bukankah niat mengendalikan kuantitas dan meningkatkan kualitas penduduk tetap berorientasi pada kemaslahatan ummat dan kesejahteraan rakyat? Sehingga pertumbuhan penduduk seperti dianalogikan Calhoun dalam sebuah eksperimen seperti dikisahkan di atas tidak perlu terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat dan di Cirebon tercinta. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
%d bloggers like this: